Tampilkan postingan dengan label Psikologi Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Anak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, April 24, 2010

MEREKA TIDAK BISA DIKARBIT

Sumber : PEPAK
Tidak seorang pun meragukan pentingnya prestasi intelektual dalam diri seorang anak. Namun prestasi intelektual itu jangan sampai melemahkan keyakinan kita bahwa anak akan mencapai hasil yang sebaik-baiknya kalau mereka diberi kesempatan berkembang sesuai dengan langkah yang ditentukan alam bagi mereka. Soalnya, kalau perkembangan intelektual mereka diburu-buru dan didesak-desak, hasilnya justru akan kurang dibandingkan dengan jika mereka dibiarkan berkembang dengan wajar.
Berikut tiga kasus yang sering dijumpai para psikolog yang bisa dipetik sebagai pelajaran.
  1. Nani, siswa kelas I SD yang kepandaiannya sedang, dipaksa-paksa oleh orangtuanya untuk belajar komputer. Soalnya orangtuanya pernah membaca bahwa kebanyakan anak perempuan kalah dari anak laki-laki dalam pelajaran matematika. Padahal mereka ingin Nani kelak bisa masuk universitas terbaik.
  2. Boby, anak kelas V SD yang kecerdasannya di atas rata-rata, ternyata mundur sekali prestasinya. Ia selalu lelah dan tegang, karena selain harus membuat PR dan belajar di sekolah, ia juga harus pergi ke perpustakaan, belajar piano, dan latihan renang. "Kami ingin agar ia jangan ketinggalan dalam semua bidang," kata ayahnya, yang tidak mau membuka mata betapa anaknya merasa tertekan dan frustasi.
  3. Dina, murid SMU. Gurunya pernah menyebutnya sebagai calon genius. Hal itu dianggap ayahnya sebagai isyarat untuk memaksa pelbagai pihak agar membolehkan Dina lompat kelas. Maksudnya, agar Dina bisa masuk universitas setahun lebih awal dari usia normal. Dina tampak bingung dan kehilangan harapan untuk berhasil, tapi orangtuanya tak kenal kompromi. Ia diharuskan meninggalkan minatnya untuk menari, meninggalkan teman-temannya dan juga pacarnya, yang menurut orang- tuanya hanya "hanya membuang-buang waktunya" saja.
Ketiga kasus seperti itu tidak jarang kita jumpai. Banyak anak menjadi korban dari kecenderungan yang keliru, yaitu menghapuskan masa kanak-kanak secepatnya dan menggantikannya dengan kedewasaan. Masalahnya banyak orangtua beranggapan supaya anak nantinya bisa survive, bisa bertahan di masa yang akan datang yang penuh tantangan, sehingga mereka harus secepatnya menjadi dewasa.
Anak yang diburu-buru seperti itu bukan cuma kehilangan kesejahteraan jiwanya, tetapi juga kehilangan kemampuannya untuk menangani stres. Di lain pihak ada orangtua yang tidak mau kalah dari orangtua lain, bertekad membesarkan generasi "bayi super" berupa genius-genius muda yang kekuatan otaknya didorong sampai batas maksimal mulai saat meninggalkan rahim. Bayi-bayi bukan diajak bermain dengan gembira, melainkan dicekoki dengan hal-hal yang dianggap "bekal masuk universitas". Anak belum berumur 4 tahun pun dijejali daftar kata-kata, karena "tahun depan akan dimasukkan ke TK elite".
Bahkan masa liburan pun kini sering tidak bisa dimanfaatkan untuk bersenang-senang dan mengkhayal lagi oleh anak-anak. Sebaliknya, mereka disuruh les macam-macam.
Memang betul bahwa bayi pun lebih mampu menerima pelajaran daripada yang kita bayangkan. Namun mencoba memajukan kemampuan intelektual seorang anak prematur sama saja dengan mengacaukan jadwal biologis perkembangan manusia yang sudah built-in. Perkembangan kemampuan seorang anak bergantung pada perkembangan otak dan sistem sarafnya. Langkah kemajuan anak yang satu bisa beda sekali dari anak yang lain. Dengan memaksa anak menyamakan derapnya dengan anak yang lebih cepat melangkah, kita hanya akan membuat si anak bingung dan frustasi.
Psikolog David Elkind, dalam bukunya "The Hurried Child", melaporkan sekarang banyak anak yang mendapatkan perawatan psikologis, karena dipaksa belajar macam-macam pada saat masih kecil sekali. Menurut Elkind, anak-anak itu diciutkan masa kanak-kanaknya. Stres yang mereka alami sering muncul dalam bentuk gejala-gejala fisik, seperti anak umur 4 tahun yang tadinya selalu sehat, kini sering sakit kepala.
Anak-anak membutuhkan kesempatan di samping belajar, untuk berangan- angan di samping melakukan sesuatu. Kenyataannya anak-anak yang mengalami masa kanak-kanak yang utuh biasanya lebih berhasil sebagai orang dewasa. Bagaimanapun, buah yang matang di pohon tetap lebih enak daripada buah karbitan. Makanya, Roussseau pun berpesan, "Biarlah masa kanak-kanak matang sendiri."

Senin, Februari 15, 2010

Menyekolahkan si anak "spesial"

Redaksi :
Menjelang tahun ajaran baru, maka semua sekolah bersiap untuk menerima murid baru, tak terkecuali AA25. Adakalanya di antara anak-anak baru tersebut, ada beberapa yang memiliki kondisi khusus, seperti autis, hiperaktif, gangguan konsentrasi, dll..baik yang sudah terdeteksi serta tertangani maupun yang belum ketahuan. AA25 beberapa kali juga menerima murid "spesial" ini. Konsekuensinya tentu para guru dituntut untuk lebih siap dalam menerima berbagai kemungkinan yang akan terjadi, karena tak jarang kondisi khusus anak bisa berakibat pada berbagai tingkahlaku spesial mereka, yg kadang dinilai mengganggu suasana belajar di kelas. Untuk itu, kali ini saya masukkan artikel khusus mengenai "menyekolahkan si anak spesial". Di dalamnya terdapat kriteria pokok apa saja yg harus dipenuhi oleh si anak agar bisa bersekolah di sekolah umum. AA25 sebagai sekolah umum tentunya juga harus mengetahui hal-hal semacam ini, agar bisa membina anak-anak "spesial" ini dengan baik pula, sehingga jauh dari anggapan "asal terima".

Menyekolahkan si anak ’spesial’
Di ajang curhat (mencurahkan isi hati)milis Putera Kembara, milis khusus untuk para orangtua yang anaknya autis, seorang ibu menulis, “Saya punya pengalaman tiga tahun menyekolahkan anak saya yang autis di sekolah umum, dari playgroup sampai TK. Dari segi perilaku banyak sekali kemajuan. Dia sudah care sama temannya, sudah banyak bertanya tentang apa yang dia dengar dari penjelasan gurunya, misalnya apa itu neraka, surga dan lain-lain, meski pun saat diterangkan dia sibuk dengan puzzle-nya.”
Ada lagi orangtua yang mengisahkan, anaknya juga masuk ke playgroup umum, melakukan speech therapy dan konsultasi ke psikolog, dan mengalami perkembangan luar biasa. Sekarang si anak sudah berusia enam tahun, lancar berkomunikasi meski kadang-kadang tak jelas dan harus diulang. Kemampuan akademis si anak juga luar biasa, walau soal maturity agak tertinggal.
Tapi, ada juga orangtua yang rupanya tidak terlalu ’beruntung’. Setelah si anak (4) dimasukkan ke TK umum selama beberapa bulan, mereka melihat hal itu ternyata tidak efektif. Si anak tidak mengalami kemajuan dalam kemampuan untuk berkomunikasi secara verbal, dan yang lebih parah lagi, tujuan agar bisa bersosialisasi seperti yang dicari banyak orangtua ketika menyekolahkan anaknya di sekolah umum ternyata tak tercapai. Maklum, sikap agresif yang kerap ditunjukkan anak autis, membuat anak-anak lain justru takut untuk mendekat.
Memang, anak-anak autis cenderung punya karakter hiperaktif, kurang fokus terhadap lawan bicara, dan membatasi interaksi mereka dengan lingkungan sekitar. Sebagian anak autis punya ingatan dan kemampuan bicara normal, tapi sebagian lagi tidak normal. Yang jelas mereka sulit berinteraksi dengan lingkungan, apalagi berteman. Tak heran kalau mereka seolah punya dunia sendiri, punya minat yang obsesif dan cenderung bersikap repetitif. Bahkan dalam kondisi yang agak parah, sekadar untuk bisa melakukan aktivitas dasar pun mereka butuh latihan intensif.
Meski tak tertutup kemungkinan bagi mereka untuk bersekolah di sekolah umum, dan sebagai orangtua Andalah yang paling berhak memutuskan, pertimbangan berikut mungkin bisa jadi masukan bagi Anda.
Kondisi anak
Bila setelah terdeteksi (autis) anak memperoleh penanganan baik dan mengalami kemajuan pesat, mungkin saja dia bisa disekolahkan di sekolah umum. Tapi, bila modal si anak dari awal sudah ’kurang’ atau kondisi autisnya memang lebih parah, tak bisa bicara misalnya, sebaiknya dia memang tak dimasukkan ke sekolah umum. Begitu pun bila anak autis ini sulit untuk berkonsentrasi di tempat ramai, mungkin sebaiknya orangtua tak memaksa si anak untuk masuk ke sekolah umum.
 “Bisa-bisa dia malah benci belajar, hingga kemudian dia berkembang dengan konsep diri yang negatif karena selalu gagal, selalu berada di urutan paling bawah dan tertinggal dari teman-temannya,” kata Dyah Puspita, psikolog  dan sekretaris Yayasan Autisme Indonesia (YAI) yang akrab dipanggil Ita ini. Anak boleh didukung untuk masuk ke sekolah umum kalau taraf autisnya terbilang ringan.
Menurut Vera Itabiliana, psikolog anak dan remaja, sebelum memutuskan apakah si anak perlu dimasukkan ke sekolah khusus atau tidak, orangtua perlu menguji anaknya dengan sejumlah pertanyaan, seperti: Bisakah si anak duduk diam di kelas selama jangka waktu yang lama, bisakah dia mengikuti aturan, bisakah dia memahami instruksi orang lain, atau bisakah dia mengendalikan emosinya ketika ada sesuatu yang tak berkenan terjadi? “Bila semua pertanyaan di atas jawabannya “tidak”, ya tidak ada positifnya memaksa anak masuk sekolah umum, lebih baik dia masuk sekolah khusus saja,” kata Vera.
Toh, hal itu terpulang lagi kepada orangtua. Sebagai psikolog yang juga terapis bagi anak-anak autis dan pengelola sekolah autis Mandiga, Ita tak pernah langsung menganjurkan agar seorang anak autis dimasukkan ke sekolah umum atau sekolah khusus. “Semuanya terserah orangtua si anak, saya hanya memberitahu kemungkinan-kemungkinan yang akan mereka hadapi sebagai konsekuensi pilihannya,” katanya.
Jadi, sah-sah saja, kok, kalau orangtua mau coba-coba dulu memasukkan anaknya ke sekolah umum. Siapa tahu si anak memang mampu. Tapi, bila si orangtua sejak awal memang menyadari si anak mungkin sulit menyesuaikan diri di sekolah biasa, sekolah khusus akan menjadi pelabuhan yang tepat. Ketika anak lain patuh saat disuruh latihan menulis misalnya, si autis mungkin akan ’membangkang’ dan asyik sendiri melakukan hal lain. Itulah yang mungkin akan menyulitkan mereka di sekolah umum.
Biasanya orangtua yang tak bisa memasukkan anaknya ke sekolah umum memang mengalami kebingungan. Tapi, menurut Ita, saat ini sudah cukup banyak pilihan. “Selain di SLB (Sekolah Luar Biasa), bisa juga dia dimasukkan ke sekolah reguler, di special wings dengan special needs, yang menerapkan kurikulum tersendiri, atau homeschooling saja. Orang belajar itu kan tidak harus selalu di sekolah umum. Kalau ada sekolah khusus, itu baik, tapi kalau nggak ada, kenapa nggak dibuat? Nggak punya tempat? Di garasi saja!” kata Ita.
Lalu bagaimana dengan guru-gurunya? Nggak ada, lho, guru yang siap pakai. Semua belajar lagi karena setiap anak berbeda karakternya. Tak ada satu anak autis pun yang sama persis dengan anak autis yang lain. Satu hal yang utama, guru itu harus punya niat untuk membaktikan diri terhadap tugasnya, karena urusan ilmu dan teknik bukanlah sesuatu yang tak bisa dipelajari.
Lingkungan kondusif
Di sekolah khusus, kebutuhan anak-anak ini memang lebih terpenuhi karena lingkungan fisik, pengajar maupun kurikulumnya sudah dirancang sedemikian rupa sehingga lebih cocok dengan kondisi anak. “Anak berada di lingkungan yang bisa memahami kondisi khusus mereka tanpa ada label ’anak aneh’ atau anak bandel. Maklum, anak yang hiperaktif sering dicap biang onar di sekolah-sekolah umum,” kata Vera. Akibatnya, kepercayaan diri anak lebih terjaga karena dia tidak merasa ’aneh’ sendiri atau tertinggal dari teman lain yang normal.
Itulah juga pertimbangan Aprilia, ibu dari Davina (4), ketika memilih menyekolahkan anaknya di sebuah sekolah khusus untuk anak-anak autis. “Saya lihat perkembangan anak juga akan lebih optimal karena terapi bisa dilakukan sambil sekolah. Guru-gurunya juga mempunyai keahlian sebagai terapis,” katanya. 
Sebaliknya di sekolah umum, guru seringkali minim atau tak punya pengalaman sama sekali menangani anak-anak ’spesial’ ini. Bukan itu saja, guru juga sulit memberikan perhatian khusus kepada si anak autis karena rasio jumlah anak dan guru dalam satu kelas kurang ideal. Di sekolah umum, satu kelas biasanya berisi lebih dari 20 anak. Bandingkan dengan di sekolah khusus anak autis, di mana satu guru rata-rata menangani tiga anak. “Lebih dari itu, pasti sudah keteteran,” kata Ita.
Selain itu, menurut Ita, “Jangankan untuk anak autis, untuk anak normal pun kurikulum pendidikan nasional saat ini sudah lumayan berat.” Pantaslah kalau anak autis yang bersekolah di sekolah umum biasanya jadi lebih tertatih-tatih. Karena itu, menurut Ita, metode belajar di sekolah autis Mandiga dibatasinya hanya pada hal-hal yang bersifat aplikatif. “Mereka diajari membaca, menulis, berhitung. Tapi yang lain-lain, kira-kira terpakai atau tidak? Kalau tidak, ya lebih baik tidak usah,” katanya.
Cara mengajar pun tidak bisa selalu sama untuk setiap anak. Untuk mengajarkan sebuah kosa kata, misalnya, guru anak autis tak jarang harus putar otak untuk bisa menarik perhatian mereka. Tak jarang mereka harus memulainya dari sesuatu yang menarik minat anak. Contoh bila si anak suka oli, maka akan lebih efektif kalau dia mulai belajar dari kata “oli”, sementara bila dia suka mobil, ya akan lebih efektif untuk mulai mengajari dia dari kata “mobil”.
Karena setiap penyandang autis berbeda dalam mengolah dan merespon informasi, kurikulum dalam proses belajar-mengajar memang harus disesuaikan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing anak. Pola pendidikan yang tepat itu juga harus diajarkan oleh guru-guru yang memang punya dedikasi untuk mendidik dan mau mencintai anak-anak ’spesial’ itu. Kalau tidak, terbayang kan rasanya menghadapi anak-anak yang bisa menangis terus selama berjam-jam tanpa henti, atau marah-marah dan malah kadang mengamuk tanpa alasan.
Saat ini, perhatian pemerintah terhadap pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus (special needs) memang masih sangat minim. Padahal, jumlah anak-anak dengan berbagai kekurangan ini terus bertambah. Saat ini saja, menurut Yayasan Autisme Indonesia, meski belum ada penelitian khusus, diperkirakan dari 160 kelahiran satu diantaranya adalah anak autis. Wah, kenapa bisa sebesar itu?  “Memang autis itu biasanya dipengaruhi oleh faktor genetis, tapi pemicunya bisa dari faktor eksternal seperti gaya hidup, vaksin, makanan, pengaruh zat-zat kimia, dan polusi yang makin parah," kata Ita. “Bayangkan kalau jumlah mereka terus bertambah dan tidak memperoleh pendidikan yang memadai. Betapa pun mereka itu kan juga generasi penerus,” tambahnya.
Rasa prihatin Ita itu mungkin ungkapan hati seorang ibu yang anaknya juga penyandang autis. Tapi, harapan akan perhatian yang lebih besar terhadap anak-anak berkebutuhan khusus seperti anak-anak autis ini mungkin juga harapan kita semua. Harapan ini bahkan juga pernah dilontarkan Torey Hayden, psikolog dan guru anak-anak berkebutuhan khusus asal Inggris ketika bertandang ke Indonesia sekitar dua tahun lalu. Menurut penulis buku laris Sheila: Luka Hati Seorang Gadis Kecil itu, anak-anak ini perlu bersekolah di tempat yang tepat karena sebagian dari mereka punya potensi intelektual yang tak kalah dibanding anak normal. Pendidikan yang baik dan sesuai dengan kebutuhan mereka akan membuat anak-anak ini bisa hidup wajar, mandiri, dan tidak sepenuhnya bergantung pada keluarga dan lingkungan.
***
Anak-anak dengan down syndrome
A gift of life, anak-anak ini adalah kado dari Tuhan. Mereka bukan untuk disembunyikan, bukan pula untuk dianggap sebagai kutukan yang memalukan. Mereka juga berhak untuk menikmati kehidupan seperti anak normal yang diajak jalan-jalan oleh orangtuanya ke mal, atau diajak bersosialisasi dengan anak lain. Itulah yang selalu ditekankan oleh Doni Rizal, direktur eksekutif dan para pengajar di Pusat Informasi dan Pendidikan Down Syndrome Matahari Lestari kepada para orangtua anak-anak down syndrome.
Berbeda dengan anak autis yang selintas terlihat seperti anak normal, anak-anak down syndrome memang langsung bisa dilihat perbedaannya dengan anak normal. Wajah mereka bundar seperti bulan purnama (moon face), dengan mata sipit yang ujung-ujungnya tertarik ke atas. Sampai saat ini, belum diketahui apa penyebab kerusakan kromosom No.21 yang menjadi pemicu kelainan genetis penyebab down syndrome ini. Tapi diperkirakan ada beberapa faktor yang berperan, seperti usia ibu yang sudah cukup lanjut, terpapar ultrasound USG lebih dari 400 kali, pengaruh alkohol, obat-obatan Cina, dan lain-lain. 
Anak-anak down syndrome punya tiga karakter khas, yaitu: secara intelektual rendah, secara mental terbelakang dan secara fisik mereka juga lemah. “Dengan kondisi seperti itu, tidak mungkin bagi kita untuk mengajari mereka biologi atau fisika. Yang penting mereka bisa bina diri (mandiri), bisa menulis dan membaca, dan memiliki beberapa keahlian lain seperti menggambar atau melukis.” kata Doni.
Di sekolah khusus down syndrome Matahariku yang dikelola oleh Yayasan Matahari Lestari, anak-anak down syndrome ini belajar untuk mandiri. Selain mengajarkan kemandirian dasar, sekolah ini juga mempunyai program jangka menengah school to work, yaitu program yang mempersiapkan anak-anak ini agar di masa pubertas mereka bisa mandiri dan melakukan pekerjaan dasar. “Di Belgia, misalnya, ada pabrik roti, toko pembuat kartu dan sebagainya yang menggunakan para penderita down syndrome sebagai pekerja. Program ini juga sangat berhasil di Singapura dan bisa menyalurkan anak-anak tersebut untuk bekerja di hotel, entah itu di bagian laundry,  atau sebagai bell boy. Bahkan ada juga yang bisa menjadi pengarang meski dengan intelektualitas dan mentalitas yang terbelakang.
Selain sangat fokus pada pekerjaan yang mereka tekuni, anak-anak down syndrome ini juga punya keistimewaan sangat pintar meniru. Akibatnya, mereka harus diekspos pada lingkungan yang baik. Jika bersekolah sama-sama dengan anak autis atau anak-anak yang hiperaktif misalnya, mereka juga akan cenderung meniru sikap hiperaktif itu. Tapi, pada dasarnya anak down syndrome cukup ramah dan terbuka sehingga mereka juga bisa bersosialisasi, meski untuk itu tentunya mereka butuh dukungan penuh dari orang-orang di sekitarnya.*

Minggu, Februari 14, 2010

NYONTEK - bukan kenakalan tapi "bibit kejahatan"..waspadai sejak dini

oleh : Ahmad Baedowi
credit thk : KickAndy

Halak & Poisson dalam Corrupt Schools, Corrupt Universities: What can be done? (2007) membedakan lima bentuk korupsi dalam pendidikan, yaitu penggelapan (embezzlement), (suap (bribery), penipuan, pemerasan, dan pilih kasih (favoritism). Dalam kasus penipuan, Halak & Poisson secara tegas merujuk pada kasus-kasus banyaknya orang yang menggunakan ijazah palsu serta guru dan pengawas yang kesukaannya adalah membantu anak-didik mereka menjawab soal-soal dalam sebuah tes atau ujian. Semua bentuk penyalahgunaan ini pasti banyak sekali contohnya dalam praktek pendidikan kita.
Sekarang mari bertanya pada diri kita sendiri, “pernahkah kita melakukan praktek mencontek ketika bersekolah dulu?” Hampir dapat dipastikan bahwa jawaban kita semua hampir 90% menyatakan pernah menyontek. Tetapi jika pertanyaannya adalah, “apakah ketika kita menyontek di sekolah dulu lebih banyak disebabkan oleh faktor lingkungan (budaya sekolah) atau murni dorongan dari keinginan secara pribadi,” maka jawabannya menurut Edu tetap sama, yaitu 90% responden pasti akan menjawab karena faktor lingkungan (budaya sekolah). Dari perspektif keabadian psikologis kemanusiaan, faktor lingkungan (budaya sekolah) merupakan alasan pembenaran nomor satu untuk mendukung budaya mencontek kita di sekolah. Bahkan hingga saat ini, praktek mencontek malah tumbuh subur di kalangan pendidik dan lembaga pendidikan, terutama dan salah satunya dipicu oleh kebijakan tentang Ujian Nasional (UN).
Ambil contoh pengalaman Edu dalam membina Sekolah Sukma Bangsa (SSB) di Aceh. Setiap tahun ajaran baru, manajemen SSB selalu disibukkan untuk melakukan adjusment terhadap rata-rata nilai ijazah dan hasil UN siswa yang masuk ke SSB. Betapa tidak, rata-rata nilai siswa yang masuk ke SSB untuk setiap mata pelajaran yang di UN-kan adalah 7-9. Tetapi ketika dilakukan test ulang terhadap semua peserta ujian masuk ke SSB dengan menggunakan pola soal seperti di UN bahkan dengan tingkat kesulitan yang telah diturunkan hingga 25%, hasilnya sungguh menakjubkan! Rata-rata siswa hanya memiliki nilai 2-4, artinya mereka sesungguhnya tak layak lulus UN. Tetapi mengapa masih tetap lulus? Jawabannya ada pada kepolosan anak-anak yang mengaku bahwa hampir seluruh jawaban yang di UN-kan dibantu oleh para guru mereka, di mana praktek mencontek marak ditolelir agar mereka bisa lulus.
Mengapa anak-anak yang masuk ke SSB mau secara sukarela mengakui praktek kecurangan tersebut? Jawabannya sederhana, yaitu karena di SSB mereka harus patuh pada budaya sekolah SSB di mana apabila setiap siswa dan guru melakukan pelanggaran terhadap tiga hal, yaitu mencontek, melakukan kekerasan (psikis dan fisik), dan merokok, maka setelah melalui proses pemberitahuan, nasehat, dan pemanggilan orangtua, seorang guru dan siswa dapat dikeluarkan dari sekolah secara tidak hormat. Dalam 3 tahun ada 9 orang siswa dan 2 orang guru yang dikeluarkan gara-gara melanggar aturan tersebut. Tujuan pendidikan di SSB dikemas amatlah sederhana, di mana salah satu pedoman yang dipegang manajemen adalah petuah dari Albert Einstein, yaitu bahwa hasil akhir dari sebuah proses pendidikan adalah membuat seseorang dapat menghargai dirinya sendiri (Try not to become a man of success but a man of value). Dengan pemahaman seperti ini manajemen SSB patut berbangga, karena pada prakteknya saat ini kesadaran untuk tidak mencontek sangat tinggi di kalangan siswa. Bahkan beberapa siswa yag secara akademis tak memiliki keunggulan sekalipun berani untuk mengikuti ujian dengan hanya berbekal pensil dan pulpen ketika masuk ke ruang kelas saat ujian berlangsung. Artinya kepercayaan diri mereka untuk tidak mencontek sudah berubah menjadi semcam habit dan semoga akan berbuah kejujuran.
Praktek penipuan dengan modus memberti contekan saat berlangsungnya UN juga Edu rasa terjadi hampir di seluruh wilayah Republik ini. Ada sebuah cerita tragis dan ironis dari seorang teman Edu yang kini sedang mengambil program magister pendidikan di salah satu universitas di Jakarta. Teman Edu bercerita tentang pengakuan seorang Kepala Madrasah di Jakarta yang juga mengkuti program magister tersebut, di mana sang kepala sekolah dalam 3 tahun terakhir ini meluluskan 100% anak didiknya yang mengikuti UN dengan cara memberikan contekan dengan berbagai cara. Dalam pemahaman Kepala Madrasah ini, adalah “zholim” jika kita tak membantu anak-anak untuk lulus UN. Sebuah statement yang menjungkirbalikkan makna “zholim” dalam pemahaman keagamaan kita. Astaghfirullah al-‘adzim.

Imajinasi = Ijtihad

oleh : Ahmad Baedowi
credit thk : KickAndy
Pernah suatu ketika Edu mendengar Guru Sarmili mengutip sebuah hadits yang isinya tentang kepantasan sahabat Umar Bin Khattab untuk menjadi Rasul sesudah Nabi Muhammad. Hadits Nabi tersebut lebih kurang berbunyi ”Jika ada orang yang pantas sesudahku untuk menjadi Nabi dan Rasul, maka orang tersebut pastilah Umar Bin Khattab RA.” Hadits ini dalam pandangan Edu penuh dengan daya imajinasi Rasul Muhammad, yang bukan hanya tak dapat dibaca secara sederhana, tetapi juga mengandung begitu banyak pertanyaan mendasar tentang masa depan umat manusia. Jika hal ini terjadi, pastilah keputusan Rasul Muhammad tersebut merupakan ijtihad terbesar dalam sejarah hidup beliau.
Jauh hari sesudah itu barulah Edu mengerti, mengapa Rasul Muhammad menaksir Sahabat Umar untuk menjadi pengggantinya. Dalam sejarah, Khalifah Umar terkenal memiliki sikap dan sifat tegas, pemberani, cerdas, kreatif, baik hati dan jujur. Semua sifat baik Umar tersebut terekam dengan baik di mata hati Rasul Muhammad, sehingga dalam prediksi beliau pastilah sifat-sifat Umar tersebut sangat dibutuhkan untuk tujuan-tujuan kemanusiaan ke depan.
Dari sudut pandang pedagogis, sifat-sifat Khalifah Umar amat dibutuhkan guru dan anak didiknya dalam upaya mengembangkan budaya avonturir; menjelajah alam pikiran dan pengetahuan dengan penuh keberanian, mau mengambil resiko tapi disertai dengan kejujuran, dan kemampuan mengelola imajinasi secara kreatif. Jika budaya ini tumbuh subur di lingkungan sekolah kita, pastilah anak Indonesia akan tumbuh menjadi serangkaian karakter Umar yang bukan hanya berani, tegas, dan jujur, tetapi juga kreatif sekaligus imajinatif.
’Imajinasi lebih menentukan ketimbang ilmu pengetahuan,’ demikian petuah Albert Einstein. Membuat anak didik kita berani dalam berimajinasi adalah tugas kita semua, para guru dan orangtua. Sebab Edu yakin benar bahwa keberanian melakukan imajinasi sama dengan berijtihad, yaitu kemampuan berlaku, berpikir dan berusaha secara sungguh-sungguh. Dalam bahasa agama, sekalipun terdapat kesalahan dalam berijtihad, maka seseorang akan memperoleh satu pahala. Sedangkan jika ijtihadnya benar, maka kepadanya akan dinisbatkan dua pahala sekaligus. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah budaya menumbuh-kembangkan imajinasi ini telah menjadi perhatian serius dari para praktisi dan pengambil kebijakan otoritas pendidikan kita?
Edu sedikit pesimis menjawab pertanyaan tadi. Rasa-rasanya budaya belajar di sekolah kita masih jauh dari keberanian mengambil resiko ini, selama para guru dan orangtua masih setia pada pola asuh dan pola ajar yang menggunakan pendekatan stimulus-respon (behaviorisme). Bahkan masyarakat kita pun menjadi takut menerima imajinasi seseorang. Sebutlah misalnya kasus Blue Energy dan Banyu Geni, dua usaha imaginatif yang dilakukan oleh perorangan dan kampus, tetapi tak mendapat respon publik secara positif. Imaginasi mereka seakan bukan sebuah ijtihad, sehingga penemunya harus dicacimaki dan diintimidasi, Rektor UMY terpaksa harus mundur, karena penemuan dan kebijakan mereka dianggap melawan common-sense. Sungguh ironis, sebuah organisasi sebesar Muhammadiyah sebagai pengusung utama tajdid (pembaharuan) dalam bidang sosial dan pendidikan di tanah air sekalipun, takut melakukan kesalahan.
Viktor Frankl pernah bilang, bahwa ada empat anugerah Ilahi yang terdapat dalam diri manusia, yaitu (1) kesadaran diri (self-awareness); (2) suara hati (consciense,); (3) kehendak bebas (Independent will,); dan (4) daya imajinasi (imagination,). Semua itu berkaitan dengan kerja akal dan hati sekaligus, tempat di mana kreativitas harus dihargai secara selayaknya. Jika kita tak mampu menghargai sebuah imajinasi, maka jangan berharap dunia pendidikan kita akan menghasilkan ilmuwan berkaliber. Bahkan yang mungkin tumbuh adalah anak didik dengan rasa keputus-asaan, frustasi, dan jauh dari kreatif.
Edu tak tahu harus menafsir apa, ketika di ruang kelas ada seorang siswa mengajukan pertanyaan imajinatif dengan kata ’seandainya’ ,. ”Seandainya Khalifah Umar Ibnu Khtattab benar menjadi Nabi setelah Nabi Muhammad dan masih hidup di zaman sekarang, pasti dia akan memilih John Lennon sebagai Nabi sesudahnya.” ”Apa alasanmu?” Kata Edu. ”Iya dong, dengarlah lagu Imagine, sangat menyentuh sekaligus menggugah dalam kondisi dunia yang semakin tak jelas ini.” Waduh, apakah ini sebuah logika imajinatif atau tanda keputus-asaan seorang siswa? Wallahu a’lam bi al-sawab. 

DISIPLIN - jangan diberitahukan tapi dicontohkan

oleh : Ahmad Baedowi
credit thk : Kick Andy

Rizal Panggabean memberikan notasi sangat bagus tentang disiplin dalam praktek pendidikan kita. Kesimpulan sederhana dari tulisannya tentang “Disiplin Menjadi Musuh Utama Pendidikan” dalam Media Indonesia 15 Desember lalu amat menggelikan, yaitu bahwa siswa kita hanya didesain dalam sebuah lingkungan belajar yang akan menjadikannya sedikit lebih baik dari robot. “Pengertian disiplin yang berada di balik berbagai bentuk insiden kekerasan adalah praktik melatih siswa supaya mematuhi perintah dan peraturan, dan menghukum mereka bila tidak mematuhinya. Selaras dengan ini, dispilin adalah kepatuhan siswa terhadap peraturan dan perintah guru atau senior mereka. Selain itu, kepatuhan tersebut terbina karena adanya aneka hukuman yang menyertai ketidakpatuhan. Hukuman itu tidak semuanya berupa pemukulan atau hukuman fisik lainnya.”
Edu hanya ingin melanjutkan lagi pertanyaan artikel tersebut, apa yang salah dari pengertian disiplin di atas? Mengapa siswa, guru, orang tua dan masyarakat luas perlu mempertanyakan pendekatan disiplin di lingkungan sekolah? Ada beberapa cerita dari lapangan yang bisa kita ambil dan petik pelajaran soal disiplin ini.
Di sekolah berasrama seperti Sukma Bangsa, praktek disiplin dikenalkan melalui proses antrian saat mereka akan makan. Satu bulan pertama, anak-anak tak bisa sama sekali untuk belajar menoleransi, bahkan terhadap sesama temannya. Pembatas antrian yang terbuat dari besi stainless sempat dua kali roboh diterjang aksi berebutan yang memang mengasyikkan itu. Dua jalur antrian yang membatasi laki-laki dan perempuan terasa kurang efektif meski petugas kantin dan para guru asuh asrama mencoba membuat mereka lebih tertib dan disiplin dalam mengantri makanan.
Ketika keputus-asaan menerpa para pengasuh asrama dan petugas kantin, solusi efektif dari salah seorang guru muncul. Mereka membuat jalur ketiga, khusus untuk antrian para guru. Setiap hari para guru ikut antri mengambil makanan tanpa rasa malu dan lelah dalam memberi contoh dan perintah. Karena pembiasaan dan row model pembelajaran langsung didapat dari para guru mereka, akhirnya pada bulan keempat dan kelima suasana tertib dan disiplin dalam mengambil makanan pun terwujud. Bahkan para siswa sekarang bisa tersenyum dan rela memberi kesempatan kepada teman-temannya yang sakit dan merasa lapar tak tertahan untuk mengambil makan lebih dulu.
Cerita lainnya lagi-lagi datang dari kantin sekolah. Seorang guru diam-diam selalu mengamati tentang perilaku anak dalam mengambil nasi. Rata-rata anak mengambil nasi tanpa berhitung apakah akan bisa mereka habiskan atau tidak. Alhasil, setiap saat selalu banyak anak yang menyisakan makanannya. Dalam satu minggu hampir seluruh guru terlibat untuk memberi nasihat agar tak mengambil nasi terlalu banyak jika tak mampu menghabiskannya. Bahasa agama pun dicoba didoktrinkan, seperti mubazir temannya setan, tak berterima kasih dan sebagainya. Hasilnya tetap saja sama, praktek berdisiplin dalam mengambil nasi tak terjadi.
Akhirnya Edu mengusulkan agar setiap habis makan sisa nasi dikumpulkan dan ditimbang. Hasilnya sungguh memilukan, dalam seminggu sisa nasi mencapai kurang lebih 40-50 kilogram! Sisa nasi dalam seminggu ini kemudian difoto dan dipasang dalam majalah dinding sekolah, sambil diberi beragam nasihat dan foto-foto orang kelaparan seperti di Afrika agar anak-anak bisa mensyukuri dan menghargai makanan yang telah mereka terima. Cara seperti ini ternyata lebih efektif dalam memberi penyadaran konsep mubazir dan rasa berterima kasih. Minggu-minggu selanjutnya sisa nasi terus berkurang, bahkan hingga sekarang hanya 1-2 kilogram saja per-minggu.
Edu teringat ilustrasi hirarkis dari Schumacher, bahwa manusia pada dasarnya memiliki unsur penyadaran diri yang sangat spesifik dan mampu melakukan refleksi transendensi, bahkan dalam praktek berdisiplin sekalipun asal saja dirangsang oleh sebuah row model yang juga genuine dan generik. Dalam bahasa pedagogis ala James Baldwin, “children have never been very good at listening to their elders, but they have never failed to imitate them.” Telah lama pendidikan kita hanya mengajarkan disiplin dalam bungkusan indoktrinasi dan guru-guru kita tak memiliki kemampuan membungkus konsep disiplin dalam suri tauladan yang secara nyata dapat dipraktekkan oleh para siswanya. Wallahu a’lam bi al-sawab.

Senin, Januari 25, 2010

Homeschooling pada Anak Usia Dini


Dari redaksi :
Saat ini adalah saat di mana para orangtua sibuk mencari berbagai informasi sekolah yang tepat untuk anak mereka, baik tingkat KBTK maupun SD. Khusus kami soroti di sini adalah PAUD yakni untuk anak usia 2-5 tahun. Begitu banyaknya PAUD ditawarkan, semua dengan iming2 berbagai fasilitas. Namun pernahkan kita berpikir dari sisi kebutuhan anak ? Setiap anak adalah individu yang berbeda dan kebutuhannya pun berbeda pula. Jadi orangtua yang bijak dalam memilih sekolah untuk anak, mestinya menempatkan si anak sebagai faktor yang pegang peranan penting dalam memilih sekolah. Homeschooling merupakan salah satu alternatif bagi PAUD. Banyak pandangan negatif pada HS ini, tetapi sebaiknya kita melihat kembali, mengapa HS menjadi makin marak ? Karena biaya pendidikan yang semakin mahalkah ? Atau karena sekolah formal dianggap tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan anak karena hanya memandang anak sebagai obyek pendidikan dan bukan subyek pendidikan ? Mari kita mawas diri bersama.
Credit source : Sumardiono   
P endidikan anak usia dini (PAUD) adalah sebuah fenomena yang sedang marak pada saat ini. Para orangtua berduyun-duyun memberikan pendidikan kepada anak sejak usia dini, bahkan sejak mereka masih bayi dan dalam kandungan.Pada satu sisi, fenomena ini menunjukkan tingginya tingkat kepedulian orangtua atas pendidikan dan masa depan anak-anak. Stimulus sejak usia dini pada anak-anak merupakan sebuah hal yang positif untuk memicu perkembangan anak.
Anak yang digegas berprestasi akademis pada usia dini, belum tentu akan melahirkan karya-karya besar dan sukses di masa depannya.
Tetapi pada sisi lain, fenomena ini juga perlu dicermati. Terutama dalam aspek pertumbuhan anak yang menjadi subyek pendidikan. Jangan sampai anak berubah menjadi obyek yang dinilai dengan ukuran orang-orang dewasa. Demikian pun, materi yang dikembangkan untuk anak jangan sampai membuat anak justru kehilangan kesempatan untuk berkembang karena terlalu mendapat tekanan yang besar dalam perkembangan pada aspek tertentu, misalnya aspek kecerdasan kognitifnya.

Pada tahun 1970-an, fenomena orangtua yang mengirimkan anak ke sekolah formal sejak usia dini pernah diteliti oleh Dr. Raymond Moore dan isterinya, Dorothy Moore. Hasil penelitian yang dibukukan dalam "Better Late than Early" itu menyoroti tentang dampak buruk lepasnya keterikatan emosional anak dengan orangtua sejak usia dini. Menurut Moore, peran orangtua dan keluarga pada anak-anak usia dini sangat besar. Hubungan cinta dan ikatan emosional orangtua dengan anak tidak bisa digantikan oleh institusi formal apapun. Sekali kerusakan emosional itu terjadi pada anak, dampaknya bersifat jangka panjang dan tidak dapat diperbaiki.

Kehati-hatian juga diingatkan oleh Dewi Utama Faizah, pakar pendidikan anak usia dini dalam salah satu makalahnya "Anak-anak Karbitan". Dewi mengingatkan orangtua agar berhati-hati dan tidak terjebak pada kondisi "early ripe, early rot". Anak yang digegas berprestasi akademis pada usia dini, belum tentu akan melahirkan karya-karya besar dan sukses di masa depannya. Bisa jadi, pada usia dewasa anak tersebut mengalami kegagalan karena perkembangan emosionalnya tidak dapat digegas sebagaimana penggesan yang dilakukan terhadap perkembangan intelektualnya.

Dalam pendidikan anak usia dini, orangtua perlu berhati-hati agar tidak berasumsi bahwa prestasi akademik pada anak usia dini merupakan jaminan keberhasilan hidup anak-anak di usia dewasa. Asumsi ini dapat menjebak orangtua dengan program percepatan untuk memicu anak berprestasi akademis sejak usia dini dengan mengabaikan aspek perkembangan emosionalnya. Dewi mengutip kisah Edith (1952) yang terkenal jenius karena mendapat stimulus kognitif dari ibunya sejak janin.



Pada usia 1 tahun Edith telah dapat berbicara dengan kalimat sempurna, usia 5 tahun Edith menyelesaikan bacaan ensiklopedi Britannica, usia 12 tahun dia masuk universitas, usia 15 tahun menjadi guru matematika di Michigan State University. Ibunya, Aaron Stem, berhasil menjadikan Edith anak jenius karena terkait dengan kapasitas otak yang sangat tak berhingga. Namun kabar Edith selanjutnya tidak terdengar lagi ketika ia dewasa.

Banyak kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak, tidak menjadi sesuatu yang bemakna dalam kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa. Hal itu dikontraskan dengan Albert Einstein yang sempat dianggap bebal pada masa kecilnya, tetapi kemudian melahirkan karya-karya besar pada usia dewasanya.

Dalam pandangan yang serupa, para praktisi yang menjalani homeschooling sejak anak usia dini menikmati proses bersama yang mereka lakukan bersama anak-anak. Tetapi, pada saat bersamaan mereka berhati-hati dan mencari keseimbangan antara stimulus kognitif dan dukungan untuk perkembangan emosional anak. Untuk membangun hubungan personal dengan anak, para praktisi homeschooling tak segan untuk melakukan penyesuaian dalam proses kehidupan pribadi mereka.



“Satu test untuk menguji kebenaran sebuah prosedur pendidikan adalah kebahagiaan anak-anak. (Maria Montessori, 1870-1952)”
Sementara itu, Dita Maulina, praktisi homeschooling yang juga mantan dosen psikologi, menyoroti mengenai aspek fun (keriangan) dalam proses pendidikan anak usia dini. Menurutnya, dunia anak adalah dunia bermain. Aspek bermain yang menyenangkan bagi anak harus mendapatkan tekanan utama dalam pendidikan anak usia dini. Selain aspek fun, kesiapan anak untuk belajar juga menjadi perhatian Ria Heraldi, praktisi homeschooling yang tinggal di Palembang.

Praktisi homeschooling lain, Dominika Arumdati, yang banyak belajar dari prinsip-prinsip pendidikan Montessori menekankan mengenai penciptaan kebiasaan-kebiasaan positif pada anak melalui aktivitas-aktivitas kesehariannya. Dengan belajar dari praktek dan memperbaiki sendiri kesalahan-kesalahan yang dilakukannya, anak terbangun kultur belajarnya yang akan berguna untuk kehidupannya saat dewasa nanti. Proses ini menjadi penyeimbang sekaligus penekanan yang lebih diutamakan daripada sekedar stimulus-stimulus yang hanya mendorong perkembangan kognitif anak.

Masa Emas Montessori


“Kemampuan untuk mengajukan pertanyaan penting lebih bermanfaat daripada kemampuan untuk menjawab pertanyaan sederhana.”
Raymond Harris

“Otak kita dapat menyimpan jutaan fakta dan tetap tak terdidik ”
Alec Bourne


 Montessori adalah metode pendidikan yang dikembangkan oleh Dr. Maria Montessori (31 Agustus 1870- 6 Mei 1952). Dr. Maria Montessori percaya bahwa setiap anak adalah unique dan berbeda dari orang dewasa. Anak kecil bukanlah orang dewasa dengan tubuh kecil.
“Aruna bantu ini ya, mommy.”
“Aruna yang pegang sendoknya. Aruna yang tuang dan aduk-aduk!”
“Aruna pakai baju sendiri!”
Ini adalah ungkapan-ungkapan yang sering terdengar, yang menjadi bagian dari keseharian yang kami jalani bersama. Dapur, ruang makan, pekarangan rumah adalah ruang belajar yang tidak terbatas bagi anak saya. Saya memilih menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya: tidak bekerja di luar rumah dan mengambil tanggung jawab penuh untuk mendidik anak saya. Tak ada pembantu atau baby sitter. Maka tak heran jika anak saya yang berumur dua tahun ini selalu bersama saya, melihat, mendengarkan dan melakukan apa yang saya lakukan.
Praktis, kegiatan sehari-hari, menjadi tempat belajar kami bersama termasuk menjalankan pekerjaan kerumah tanggaan. Tantangannya justru pada saya bagaimana berusaha menjadikan pekerjaan itu bukanlah suatu beban, berusaha tidak mengeluh di depan anak, dan selalu menyadari bahwa ini adalah bagian dari pembelajaran bagi anak saya. Tidak mudah karena dalam prakteknya saya sendiri tidak lepas dari kebosanan dan letih fisik akibat pekerjaan rutin yang terus menerus. Mengingat situasi ini, maka saya mencari berbagai buku yang bisa mengembangkan dan menyeimbangkan bagaimana mendidik anak saya terutama dalam hidup sehari-hari.

Membaca buku Teaching Montessori In The Home, The Preschool Years (Elizabet G. Hainstock, Plume, 1997) membantu memperkaya saya dalam memahami tugas dan tanggung jawab sebagai ibu sekaligus pendidik. Latihan tentang hidup sehari-hari termasuk melakukan pekerjaan di rumah, saya pergunakan untuk mengajarkan anak agar bisa menanggapi hal-hal yang ada di lingkungan sekitarnya. Tentu saja berangkat dari hal-hal yang bersifat rutin dan sederhana namun bisa selalu bermakna baru dan menyenangkan bagi si anak. Anak-anak menyukai perulangan namun bukan yang berlebihan. Ini membantu mereka memahami bagaimana pola sebuah pekerjaan bisa diselesaikan. Mereka akan belajar bahwa ada tahapan yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Ini sama dengan mengajarkan logika dan tata urutan secara sederhana.

Hal yang sebaiknya dicapai dalam pengajaran adalah semangat di dalamnya dan bukan sekedar keterampilan mekanis dari seorang ilmuwan; dengan demikian arah persiapan seharusnya mengacu pada semangat dan bukan pada mekanisme.
(Maria Montessori, 1870-1952)


Alam memberikan kesempatan agar kita bisa mempelajari sesuatu pada waktunya. Montesssori menyebut periode usia dini sebagai Sensitive Periods atau masa-masa ‘emas’ perkembangan anak ketika mereka mudah mempelajari sesuatu. Apabila periode ini ini terlewatkan, maka ia akan hilang begitu saja. (Hainstock, 1997:6-7). Ketika periode ‘emas’ ini dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan mengamati kebutuhan belajarnya secara khusus sesuai dengan tahapan umurnya, ini bisa digunakan untuk membantunya memahami dan menguasai lingkungannya.
[Montessori] menyatakan bahwa pikiran anak itu seperti “otak spons” karena kemampuannya yang luar biasa untuk belajar dan memahami dengan mudah dan tanpa sadar dari dunia di sekitarnya. … [Montessori] menegaskan, bagaimanapun, bahwa “lingkungan seharusnya mengangkat si anak dan bukan membentuknya”. (Hainstock, 1997:7-8, istilah sebagaimana aslinya.
Montessori percaya bahwa seorang anak belajar dari lingkungan sekitarnya. Sejak berusia dua tahun, anak punya keingintahuan yang sangat besar, senang bereksplorasi, dan senang mencoba hal baru. Karenanya, kita sebaiknya bisa melihat bahwa setiap anak memiliki kepribadian yang ingin dikembangkannya sendiri: mereka memiliki inisiatif, mereka memilih sendiri apa yang ingin mereka lakukan, bertahan untuk terus melakukannya dan merubahnya sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya sendiri. Mereka sangat ‘hand-minded’ dan senang mengamati berbagai hal dan meresponnya dengan cara mereka sendiri-sendiri sesuai dengan perkembangan motorik, sensorik dan bahasa melalui penggunaan kelima panca indera mereka.

Tabel: Masa ‘Emas’ Menurut Montessori
USIA ANAK (tahun)
PERIODE PERKEMBANGAN
Lahir-3
Perkembangan kepekaan inderawi dan pikiran yang sudah dapat menyerap stimulus melalui panca indera
1 ½ - 3
Perkembangan kepekaan dan kemampuan berbahasa (menirukan, berkomunikasi dua arah)
1 ½ - 4
Perkembangan kordinasi dan gerakan otot
Tertarik dengan objek-objek yang kecil
2 – 4
Pematangan kordinasi gerakan
Peduli/mempertanyakan kebenaran dan kenyataan
Sadar akan ruang dan waktu
2½ - 6
Pematangan pada kepekaan inderawi
3 - 6
‘Tunduk’ pada pengaruh orang dewasa
3½ - 4½
Perkembangan kemampuan menulis
4 – 4½
Perkembangan kemampuan fisik
4½ - 5½
Perkembangan kemampuan membaca
Sumber: Hainstock, 1997:7

Minggu, November 08, 2009

Jean Piaget, tokoh psikologi perkembangan anak


Moms - Dads, 
Untuk memberikan pola pengasuhan yang tepat pada anak-anak kita, seyogyanya orangtua sedikit banyak belajar mengenai psikologi perkembangan anak.Karena dengan bekal pengetahuan psikologi yang cukup maka kita akan lebih bijak dalam menghadapi anak dan segala permasalahannya. Ilmu psikologi sendiri sebenarnya tergolong pada common sense knowledge atau ilmu pengetahuan umum, yang bisa dipelajari oleh siapa saja. Bagi para orangtua anak2 SDI AA 25 yang rata2 mengenyam pendidikan tinggi, saya rasa belajar ilmu psikologi tidaklah sulit, hanya tinggal kemauan dan tekat untuk belajar saja. Percayalah, kita akan menjadi sangat terbantu jika mau memperlajari psikologi anak, karena sesungguhnya yang mengetahui tentang anak kita adalah orangtua sendiri, bukan dokter anak, bukan psikolog, bukan guru kelas. Jadi, mari kita belajar lagi. Sekarang penulis ingin memperkenalkan salah satu tokoh psikologi perkembangan anak yang sangat besar jasanya bagi ilmu psikologi, Jean Piaget. Semoga dengan mengenalnya, kita akan makin tertarik untuk belajar, demi anak kita.


Jean Piaget (lahir di Neuchâtel, Swiss, 9 Agustus 1896 – meninggal 16 September 1980 pada umur 84 tahun) adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan psikolog perkembangan Swiss, yang terkenal karena hasil penelitiannya tentang anak-anak dan teori perkembangan kognitifnya. Menurut Ernst von Glasersfeld, Jean Piaget adalah juga "perintis besar dalam teori konstruktivis tentang pengetahuan"[1]. Karya Piaget pun banyak dikutip dalam pembahasan mengenai psikologi kognitif.

Riwayat Singkat
Piaget dilahirkan di Neuchâtel di wilayah Swiss yang berahasa Perancis. Ayahnya, Arthur Piaget, adalah seorang profesor dalam sastra Abad Pertengahan di Universitas Neuchâtel. Piaget adalah seorang anak yang terlalu cepat menjadi matang, yang mengembangkan minatnya dalam biologi dan dunia pengetahuan alam, khususnya tentang moluska (kerang-kerangan), dan bahkan menerbitkan sejumlah makalah sebelum ia lulus dari SMA. Malah, kariernya yang panjang dalam penelitian ilmiah dimulai ketika ia baru berusia 11 tahun, dengan diterbitkannya sebuah makalah pendek pada 1907 tentang burung gereja albino. Sepanjang kariernya, Piaget menulis lebih dari 60 buah buku dan ratusan artikel.
Piaget memperoleh gelar Ph.D. dalam ilmu alamiah dari Universitas Neuchâtel, dan juga belajar sebentar di Universitas Zürich. Selama masa ini, ia menerbitkan dua makalah filsafat yang memperlihatkan arah pemikirannya pada saat itu, tetapi yang belakangan ditolaknya karena dianggapnya sebagai karya tulis seorang remaja. Minatnya terhadap psikoanalisis, sebuah aliran pemikiran psikologi yang berkembang pada saat itu, juga dapat dicatat mulai muncul pada periode ini.
Belakangan ia pindah dari Swiss ke Grange-aux-Belles, Perancis, dan di sana ia mengajar di sekolah untuk anak-anak lelaki yang dikelola oleh Alfred Binet, pengembang tes intelegensia Binet. Ketika ia menolong menandai beberapa contoh dari tes-tes intelegensia inilah Piaget memperhatikan bahwa anak-anak kecil terus-menerus memberikan jawaban yang salah untuk pertanyaan-pertanyaan tertentu. Piaget tidak terlalu memperhatikan pada jawaban-jawaban yang keliru itu, melainkan pada kenyataan bahwa anak-anak yang kecil itu terus-menerus membuat kesalahan dalam pola yang sama, yang tidak dilakukan oleh anak-anak yang lebih besar dan orang dewasa. Hal ini menyebabkan Piaget mengajukan teori bahwa pemikiran atau proses kognitif anak-anak yang lebih kecil pada dasarnya berbeda dengan orang-orang dewasa. (Belakangan, ia mengajukan teori global tentang tahap-tahap perkembangan yang menyatakan bahwa setiap orang memperlihatkan pola-pola kognisi umum yang khas dalam setiap tahap perkembangannya.) Pada 1921, Piaget kembali ke Swiss sebagai direktur Institut Rousseau di Geneva.
Pada 1923, ia menikah dengan Valentine Châtenay, salah seorang mahasiswinya. Pasangan ini memperoleh tiga orang anak, yang dipelajari oleh Piaget sejak masa bayinya. Pada 1929, Jean Piaget menerima jabatan sebagai Direktur Biro Pendidikan Internasional, yan tetap dipegangnya hingga 1968. Setiap tahun, ia menyusun "Pidato Direktur"nya untuk Dewan BPI itu dan untuk Konferensi Internasional tentang Pendidikan Umum, dan di dalamnya ia secara eksplisit mengungkapkan keyakinan pendidikannya.
Tahap-tahap perkembangan kognitif
Piaget menjabat sebagai profesor psikologi di Universitas Geneva dari 1929 hingga 1975 dan ia paling terkenal karena menyusun kembali teori perkembangan kognitif ke dalam serangkaian tahap, memperluas karya sebelumnya dari James Mark Baldwin, menjadi empat tahap perkembangan yang lebih kurang sama dengan (1) masa infancy, (2) pra-sekolah, (3) anak-anak, dan (4) remaja. Masing-masing tahap ini dicirikan oleh struktur kognitif umum yang mempengaruhi semua pemikiran si anak (suatu pandangan strukturalis yang dipengaruhi oleh filsuf Immanuel Kant). Masing-masing tahap mewakili pemahaman sang anak tentang realitas pada masa itu, dan masing-masing kecuali yang terakhir adalah suatu perkiraan (approximation) tentang realitas yang tidak memadai. Jadi, perkembangan dari satu tahap ke tahap yang lainnya disebabkan oleh akumulasi kesalahan di dalam pemahaman sang anak tentang lingkungan nya; akumulasi ini pada akhirnya menyebabkan suatu tingkat ketidakseimbangan kognitif yang perlu ditata ulang oleh struktur pemikiran.
Keempat tahap perkembangan itu digambarkan dalam teori Piaget sebagai
  1. Tahap sensorimotor: dari lahir hingga 2 tahun (anak mengalami dunianya melalui gerak dan inderanya serta mempelajari permanensi obyek)
  2. Tahap pra-operasional: dari 2 hingga 7 tahun (mulai memiliki kecakapan motorik)
  3. Tahap operasional konkret: dari 7 hingga 11 tahun (anak mulai berpikir secara logis tentang kejadian-kejadian konkret)
  4. Tahap operasional formal: setelah usia 11 tahun (perkembangan penalaran abstrak).
Karya-karya penting dan keberhasilan
  • Piaget, J. (1950). Introduction à l’Épistémologie Génétique. Paris: Presses Universitaires de France.
  • Piaget, J. (1961). La psychologie de l'intelligence. Paris: Armand Colin (1961, 1967, 1991). Versi online
  • Piaget, J. (1967). Logique et Connaissance scientifique, Encyclopédie de la Pléiade.
  • Inhelder, B. dan J. Piaget (1958). The Growth of Logical Thinking from Childhood to Adolescence. New York: Basic Books.
  • Inhelder, B. dan Piaget, J. (1964). The Early Growth of Logic in the Child: Classification and Seriation. London: Routledge and Kegan Paul.
  • Piaget, J. (1928). The Child's Conception of the World. London: Routledge and Kegan Paul.
  • Piaget, J. (1932). The Moral Judgment of the Child. London: Kegan Paul, Trench, Trubner and Co.
  • Piaget, J. (1952). The Child's Conception of Number. London: Routledge and Kegan Paul.
  • Piaget, J. (1953). The Origins of Intelligence in Children. London: Routledge and Kegan Paul.
  • Piaget, J. (1955). The Child's Construction of Reality. London: Routledge and Kegan Paul.
  • Piaget, J. (1971). Biology and Knowledge. Chicago: University of Chicago Press.
  • Piaget, J. (1995). Sociological Studies. London: Routledge.
  • Piaget, J. (2001). Studies in Reflecting Abstraction. Hove, UK: Psychology Press.

Rabu, September 30, 2009

Topik Khusus : Anak Hiperaktif

PENGERTIAN TENTANG ANAK HIPERAKTIF
Anak yang hiperaktif umumnya bersifat agresif, penuh semangat, tidak dapat tenang, sulit diajar, tidak tahan lama melakukan satu aktivitas. Biasanya juga sulit bergaul dengan teman sebaya, tidak mampu menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru dan juga sulit menaati orangtua dan guru. Setelah dewasa umumnya mengalami masalah dalam emosi, suka bermabuk-mabukan atau melakukan pelanggaran hukum. Sebenarnya keaktifan itu tidak mereka inginkan, namun mereka sulit untuk duduk dengan tenang dan memperlambat gerakan mereka karena mereka didorong oleh suatu kekuatan yang sulit dijelaskan, dan sulit diubah.
Pada tahun 1845, Dr. Heinrich Hoffmann mengumpulkan cerita anak-anak yang berisi pelajaran moral dan kemudian melalui penelitian tersebut mengunakan istilah yang berbeda untuk melukiskan sifat hiperaktif. Dan melalui pengamatan, kira-kira di tahun 1902, Dr. G.F. Still menguraikan bahwa ada beberapa perilaku tertentu yang menjadi ciri anak-anak tersebut. Tetapi sebelum menyelidiki secara akurat, ia sudah tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan bahwa perilaku tersebut adalah hasil dari kesalahan pendidikan keluarga. Setelah itu dalam banyak tahun bermunculanlah istilah-istilah, seperti: perhatian, deficit disorder, masalah perilaku fungsional, dyslexia, sindrom anak hiperaktif, sindrom impulsif hiperkinetik, ketidakmampuan dalam belajar, sindrom kerusakan otak minimal, ketidakmampuan belajar secara khusus, dan sebagainya.
PERNYATAAN MASALAH
1. Masalah intelek.
Anak hiperaktif jelas mengalami gangguan dalam otak. Ia sulit menentukan mana yang penting dan mana yang harus diprioritaskan terlebih dulu, selain sulit menyelesaikan pelajaran, sering tidak dapat berkonsentrasi dan pelupa. Adakalanya mereka sulit mengerti pembicaraan orang secara umum, apalagi terhadap petunjuk yang mengandung langkah-langkah atau tahapan-tahapan. Ia sulit menggabungkan satu hal dengan hal lainnya, kurang kendali diri, tidak dapat berencana atau menduga apa akibat yang dilakukannya, susah bergaul, kemampuan belajar lemah. Daya pikir penangkapannya lemah sehingga sulit untuk menghadapi pelajaran matematika. Karena mengalami luka di otak, mereka sering tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan, khususnya ketika masuk ke suasana kelas yang dinamis, emosinya menjadi mudah terangsang. Perilaku yang sulit diduga itu kadang membuat orangtua, guru atau teman-temannya merasa khawatir.
Kadangkala mereka sadar harus mematuhi peraturan, tetapi tidak mampu mengendalikan diri. Ia juga mengalami kesulitan dalam mengutarakan pikiran dan perasaan melalui kata-kata, sering kacau dalam menanggapi citra yang diterima, misalnya: "m" dengan "w", "d" dianggap "b" atau "p" dianggap "q", dan sebagainya sehingga mengalami kesulitan dalam membaca.
2. Masalah biologis.
Mereka suka sekali berlari-lari dan sulit untuk menyuruh mereka diam, sepertinya sedang begitu sibuk melakukan sesuatu sehingga tidak dapat beristirahat, meraba, dan menyentuh benda-benda untuk merasakan lingkungan di sekitarnya, suka berteriak dan ribut, semangatnya kuat. Anak hiperaktif juga peka terhadap bahan kimia, obat, bulu, debu, dan barang kosmetik. Mereka juga sensitif terhadap makanan tertentu, seperti: coklat, jagung, telor ayam, susu, kedelai, daging, babi, gula, dan gandum. Mereka sulit tidur dengan nyenyak dan mudah terbangun, dan kebiasaan tidur mereka bermacam-macam: ada yang bermimpi sambil berjalan, menggigau atau mengompol. Mereka tidak dapat berolahraga dengan banyak gerak dan banyak tenaga, seperti bersepeda atau lompat tali. Sebaliknya gerakan tenang pun bermasalah, misalnya bila disuruh menulis, mewarnai, atau menggambar, mereka tidak dapat menggunakan alat tulis dengan baik.
3. Masalah emosi.
Anak hiperaktif umumnya bersifat egois, kurang sabar, dan emosional, bila berbaris selalu berebutan, tidak sabar menunggu, bermain kasar, suka merusak, tidak takut bahaya, dan sembrono sehingga besar kemungkinan bisa mengalami kecelakaan. Pernyataan emosinya sangat ekstrim dan kurang kendali diri. Juga emosi sering berubah-ubah sehingga tidak mudah diduga, kadang begitu senang dan ceria, tetapi sebentar kemudian marah dan sedih. Seorang ahli berpendapat bahwa yang sangat dibutuhkan mereka adalah melatih mereka untuk dapat mengendalikan diri.
4. Masalah moral.
Karena mengalami berbagai masalah seperti di atas, maka mereka pun tidak memiliki kepekaan dalam hati nurani. Ia bisa mencuri uang orangtua atau permen di toko, tidak mengembalikan barang yang dipinjam, masuk ke kamar orang lain, mencela pembicaraan orang, mencuri dengar pembicaraan telepon orang lain sehingga kesan orang banyak adalah anak ini bermasalah dan bermoral rendah.

PENYELESAIAN MASALAH

Ada banyak orangtua yang tahu bahwa penyebab anak berperilaku demikian hanya karena masalah biologis, lalu menanggapinya tidak dengan serius, tetapi ada juga yang menanggapi secara serius dan menghajarnya ketika mereka berperilaku agresif. Namun bila terus- menerus dihukum dan dipukul, tidak akan mempan terhadap anak seperti ini. Lalu bagaimana cara mengajar mereka?
1. Penggunaan obat.
Dokter umumnya menganjurkan penggunaan obat untuk menolong anak yang hiperaktif, dan hal itu pun sudah dibuktikan bermanfaat dalam menenangkan mereka. Jikalau masalahnya cukup serius dan penyebabnya bukan masalah emosi, maka penggunaan obat harus sesuai dengan petunjuk dokter dan jangan sampai ada efek sampingannya. Penting sekali untuk berkonsultasi dengan dokter ahli saraf.
2. Pengaturan makanan.
Dalam konsultasi dengan dokter sebaiknya orangtua menanyakan apakah anaknya itu alergi terhadap satu macam makanan dan apakah perlu ada pengendalian terhadap makanan, sebab ada banyak bukti terhadap kebenaran ini.
3. Hindarkan pemanjaan.
Anak jangan dimanjakan kalau tahu bahwa penyebab hiperaktifnya karena masalah biologis. Orangtua harus bertahan dengan peraturan yang telah diberikan dan menuntut anak agar menaatinya. Tunjukkan dengan mantap dan wibawa bahwa orangtua ingin ditaati oleh anak-anaknya supaya pernyataan ini juga memberi rasa aman kepada anak. Sikap bertahan ini bukan berarti kejam, keras, diktator atau berhati baja, tetapi sebaliknya justru untuk membina dan mengajar anak tentang apa yang harus mereka lakukan.
4. Menciptakan lingkungan yang tenang.
Usahakan untuk menciptakan suasana yang tenang di tempat anak itu biasa bergerak, misalnya: di kamar atau di ruang bermain. Bila lingkungan tempat tinggalnya sangat bising, sebaiknya pindah rumah agar anak itu dapat bertumbuh dalam situasi yang baik.
5. Memilih acara teve dengan hati-hati.
Acara teve yang menampilkan adegan kekerasan, lagu yang ribut dan sinar yang bergerak menyilaukan, dapat merangsang anak dan mengakibatkan mereka emosional. Cegahlah anak untuk meniru adegan-adegan yang tidak baik. Oleh sebab itu, pilihlah acara teve yang beradegan lembut dan baik.
6. Gunakan tenaga ekstra dengan tepat.
Anak ini kurang dapat mengendalikan diri dan apabila sikap agresifnya dapat disalurkan dalam aktivitas yang tepat, maka itu akan mengurangi keonaran, misalnya dengan mengizinkan dia mengikuti aktivitas di luar rumah atau membuat pekerjaan rumah bersama teman atau mengikutsertakan dalam proses belajar mengajar di kelas, sehingga dengan demikian ia dapat menyalurkan tenaga ekstranya dengan benar.
7. Membimbing dalam kebenaran.
Meski anak hiperaktif sering tidak mampu menguasai diri dengan perilakunya, orangtua atau guru tidak seharusnya bersikap acuh dan menyerah. Setiap perilaku yang tidak dapat diterima harus dicegah, kemudian tentukan suatu standar yang sesuai dengan kebenaran. Perlu ada kesabaran untuk mengajarkan hal ini, walaupun harus dilakukan berulang-ulang. Bila orangtua tidak putus asa, anak akan mempunyai harapan untuk disembuhkan. Didiklah mereka selalu, untuk berdoa kepada Allah SWT

Sumber: PEPAK

Tips untuk Orangtua yang Memiliki Anak Hiperaktif

Menjadi orangtua yang memiliki anak hiperaktif pasti merupakan salah satu tugas yang sangat sulit. Berikut ini beberapa tips yang dapat Anda terapkan dalam usaha menghadapi anak hiperaktif.
  1. Ajarkan disiplin pada anak hiperaktif, agar ia dapat mengatur dirinya dengan baik.
  2. Jangan menghukumnya karena perilaku hiperaktif bukanlah kesalahan anak Anda.
  3. Jangan sekali-kali melabel anak hiperaktif sebagai anak nakal, malas atau bodoh, karena akhirnya ia akan bersikap seperti yang dilabelkan padanya.
  4. Keefektifan terapi berbeda-beda bagi tiap anak. Orangtua harus menentukan terapi yang terbaik bagi anak.
  5. Yang terpenting berikan kasih sayang (bukan memanjakan) pada anak hiperaktif melebihi saudara lainnya. Alasannya, seberapa banyak kasih sayang yang ditumpahkan pada anak hiperaktif, tidak akan pernah bisa penuh.
  6. Dalam mengajari anak Anda yang hiperaktif, jangan bosan untuk terus menerus mengulang hal-hal yang dengan cepat dapat dipelajari dan diingat oleh anak normal.
  7. Di depan anak Anda tersebut, katakanlah pada orang lain kalau dia adalah anak yang baik, dan jangan mengomentari kesalahan- kesalahan yang pernah dilakukannya.
  8. Secara konstan/terus menerus waspadalah terhadap segala tindakannya yang mungkin dapat membahayakan dirinya atau orang lain.
  9. Perbanyak komunikasi dengan anak Anda. Jika pada anak normal kita cenderung berkomunikasi pada saat-saat tertentu, pada anak hiperaktif kita harus berkomunikasi "setiap satu menit sekali".
  10. Salah satu hal tersulit dalam mengatasi anak hiperaktif adalah ketika sedang berada di meja makan dan kita meminta dia makan sendiri. Mungkin dia malah akan memainkan makanannya atau berlari- lari mengelilingi meja makan. Jangan marahi dia! Yang harus Anda lakukan adalah Anda harus membantu mereka makan sendiri dengan sabar.
Demikian bebarapa tips yang diharapkan dapat membantu Anda. Menghadapi Anda hiperaktif mungkin tidak semudah teori yang kita baca, tapi dengan kesabaran dan didasarkan rasa kasih kita kepada sang anak, kita pasti bisa melakukannya.
Sumber : PEPAK
Pustaka

  • Majalah Intisari, , Edisi November tanggal/tahun 2001, Artikel Tips untuk Orangtua, halaman 63, PT. Intisari Mediatama, Jakarta, 2001.

  • The Hyperactive Child What the Family Can Do!, Belinda Barnes and Irene Colquhoun, , Artikel Day to Day Management of The Hyperactive Child, halaman 90 - 96, Thorsons Publishers Limited, Northamptonshire.

  • Rabu, September 16, 2009

    Gerakan Brain Gym untuk Perkembangan Bicara



    Kesuksesan anak dalam meraih prestasi sangat ditentukan oleh perkembangan kemampuan bahasa atau kemampuan berkomunikasi. Kemampuan ini sangat diperlukan agar anak dapat berinteraksi secara nyaman & efektif dengan guru & teman, selain juga mampu menangkap apa yg disampaikan oleh guru. Adapun salah satu persyaratan utama anak untuk bisa berkomunikasi adalah kemampuan otak anak mengelola informasi di dalam pusat bahasa dan menyalurkan reaksi yang tepat, berupa pemilihan kata, penyusunan kalimat serta intonasi yang pas. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa kemampuan berbahasa anak sering tidak siap untuk memasuki jenjang pendidikan formal seperti SD. Hal ini lebih banyak disebabkan, TK yg semestinya mengoptimalkan perkembangan bahasa anak, terpaksa menggantikan fungsinya sebagai bentuk persiapan anak ke SD, dg lebih menekankan ke baca tulis hitung. Untuk itu peran aktif orangtua harus semakin besar. Bapak ibu tidak bisa lagi menyerahkan seluruh tanggungjawab pendidikan ke sekolah. Nah, bagi para ortu yg ingin anaknya lebih baik lagi kemampuan berbahasanya, bisa mnecoba metode Brain Gym seperti di bawah ini.

     
    1.       Gerakan Meregangkan Otot :
    yaitu kemampuan berguling dari posisi tiarap sampai ke posisi telentang, dan sebaliknya, kemampuan membedakan daerah tubuh dan memulai gerakan dari satu bagian tubuh.  Fungsinya: membantu bicara, pemahaman dan halangan lain yang terkait dengan bicara
    2.     Burung Hantu Reseptif:
    Orangtua/guru berdiri di belakang si anak dan meremas bahu si anak sambil menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
    Fungsinya: integrasi tengkuk, integrasi visi dan mendengarkan dengan gerakan seluruh tubuh, agar bisa mensejajarkan kepala dan leher dengan lebih baik, memperhatikan, membedakan dan persepsi auditori, memori, kemampuan berpikir dan bicara.
    3.      Mengaktifkan Tangan:
    Orangtua/guru mengangkat kedua lengan anak lurus ke atas, menahan dengan lembut pada kedua sisi kepalanya, memanjangkannya, dan mengangkatnya sedikit naik dari tulang iga.
    Fungsi: mengurangi ketegangan motorik kasar dalam bahu, dada, lengan dan tangan, koordinasi mata-tangan, cara bicara ekspresif dan kemampuan berbahasa, pernafasan lebih baik

    4.      Lambaian Kaki:
    Orangtua/guru memegang bagian bawah lutut (origo) dan di bagian tumit (insertio) secara bersamaan dengan posisi direntangkan (seperti posisi sila, tetapi kaki satunya menapak di lantai dan si anak berdiri, terapis menahan di belakang). Kemudian kakinya digerak-gerakkan seperti sedang melambai, ulangi dengan kaki lainnya.
    Fungsi: kemampuan untuk menahan atau memulai sendiri, menahan berat secara lebih baik, mempertinggi ekspresi diri, dan cara bicara yang ekspresif serta keterampilan berbahasa

    5.      Pompa Betis:
    anak berdiri pada jarak satu lengan dari meja dan menyandar ke dean pada meja sambil meletakkan telapak tangan di atas meja. Satu kaki ditarik lurus ke belakang sampai jari jari kakinya
    menyentuh lantai dan tumitnya terangkat. Orangtua/guru memegangi pergelangan kaki anak sambil dengan lembut menekan tumit anak ke lantai. Lalu tumit diangkat dan proses menekan mengangkat diulangi beberapa kali untuk memanjangkan otot betisnya.
    Fungsi: kemampuan untuk menahan dan memulai sendiri, menahan bobot, mempertinggi kesadaran sikap tubuh dan ekspresi diri, cara berbicara yang ekspresif dan kemampuan berbahasa

    6.      Sakelar Otak:
    dengan satu tangannya, orangtua/guru dengan kuat memijat jaringan lunak di bawah tulang selangka anak, kiri dan kanan tulang dada, lalu orangtua/guru meletakkan tangannya yang lain pada pusar si anak.
    Cara lain: orangtua/guru dengan perlahan menggerakkan sebuah pena dengan memegangnya dari jarak 12 sampai 18 inci dari hidung si anak, dari kiri bidang visual anak ke kanan, dan kembali lagi. Diulang. Fungsi: mengirim pesan dari belahan otak kanan ke sebelah kiri tubuh, dan sebaliknya, menerima oksigen lebih banyak, perbaikan koordinasi visual, peningkatan kemampuan berpijak dan memusat.

    7.      Menguap Ber Energi;
    orangtua/guru menekan atau dengan lembut memijat sembarang titik yang tegang pada rahang anak khususnya pada tepi geraham bagian atas dan bawah, kemudian bersama sama anak, orangtua/guru
    mengeluarkan bunyi desahan (menguap) yang membuat relaks.
    Fungsi: perbaikan fungsi motor untuk otot otot yang terlibat dalam proses mengunyah dan bersuara, peningkatan relaksasi dan visual, perbaikan komunikasi yang ekspresif dan verbal, peningkatan kemampuan memilah informasi penting.

    8.      Passing Telling;
    Orangtua/guru menggunakan ibu jari dan jari telunjuk untuk menarik kedua telinga anak dengan lembut keluar dan melepas gulungannya dimulai dari puncak telinga dipijat lembut sepanjang lengkungannya, berakhir di cuping bawah (3 titik atas tengah bawah). Ulangi 3 x atau lebih.
    Fungsi: membedakan persepsi, memori auditori, mendengarkan suaranya sendiri saat berbicara, daya ingat jangka pendek, bicara dalam hati dan keterampilan berpikir, mendengar dengan kedua telinga secara bersamaan.

    Sumber : "I am The Child"