Minggu, Februari 14, 2010

Imajinasi = Ijtihad

oleh : Ahmad Baedowi
credit thk : KickAndy
Pernah suatu ketika Edu mendengar Guru Sarmili mengutip sebuah hadits yang isinya tentang kepantasan sahabat Umar Bin Khattab untuk menjadi Rasul sesudah Nabi Muhammad. Hadits Nabi tersebut lebih kurang berbunyi ”Jika ada orang yang pantas sesudahku untuk menjadi Nabi dan Rasul, maka orang tersebut pastilah Umar Bin Khattab RA.” Hadits ini dalam pandangan Edu penuh dengan daya imajinasi Rasul Muhammad, yang bukan hanya tak dapat dibaca secara sederhana, tetapi juga mengandung begitu banyak pertanyaan mendasar tentang masa depan umat manusia. Jika hal ini terjadi, pastilah keputusan Rasul Muhammad tersebut merupakan ijtihad terbesar dalam sejarah hidup beliau.
Jauh hari sesudah itu barulah Edu mengerti, mengapa Rasul Muhammad menaksir Sahabat Umar untuk menjadi pengggantinya. Dalam sejarah, Khalifah Umar terkenal memiliki sikap dan sifat tegas, pemberani, cerdas, kreatif, baik hati dan jujur. Semua sifat baik Umar tersebut terekam dengan baik di mata hati Rasul Muhammad, sehingga dalam prediksi beliau pastilah sifat-sifat Umar tersebut sangat dibutuhkan untuk tujuan-tujuan kemanusiaan ke depan.
Dari sudut pandang pedagogis, sifat-sifat Khalifah Umar amat dibutuhkan guru dan anak didiknya dalam upaya mengembangkan budaya avonturir; menjelajah alam pikiran dan pengetahuan dengan penuh keberanian, mau mengambil resiko tapi disertai dengan kejujuran, dan kemampuan mengelola imajinasi secara kreatif. Jika budaya ini tumbuh subur di lingkungan sekolah kita, pastilah anak Indonesia akan tumbuh menjadi serangkaian karakter Umar yang bukan hanya berani, tegas, dan jujur, tetapi juga kreatif sekaligus imajinatif.
’Imajinasi lebih menentukan ketimbang ilmu pengetahuan,’ demikian petuah Albert Einstein. Membuat anak didik kita berani dalam berimajinasi adalah tugas kita semua, para guru dan orangtua. Sebab Edu yakin benar bahwa keberanian melakukan imajinasi sama dengan berijtihad, yaitu kemampuan berlaku, berpikir dan berusaha secara sungguh-sungguh. Dalam bahasa agama, sekalipun terdapat kesalahan dalam berijtihad, maka seseorang akan memperoleh satu pahala. Sedangkan jika ijtihadnya benar, maka kepadanya akan dinisbatkan dua pahala sekaligus. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah budaya menumbuh-kembangkan imajinasi ini telah menjadi perhatian serius dari para praktisi dan pengambil kebijakan otoritas pendidikan kita?
Edu sedikit pesimis menjawab pertanyaan tadi. Rasa-rasanya budaya belajar di sekolah kita masih jauh dari keberanian mengambil resiko ini, selama para guru dan orangtua masih setia pada pola asuh dan pola ajar yang menggunakan pendekatan stimulus-respon (behaviorisme). Bahkan masyarakat kita pun menjadi takut menerima imajinasi seseorang. Sebutlah misalnya kasus Blue Energy dan Banyu Geni, dua usaha imaginatif yang dilakukan oleh perorangan dan kampus, tetapi tak mendapat respon publik secara positif. Imaginasi mereka seakan bukan sebuah ijtihad, sehingga penemunya harus dicacimaki dan diintimidasi, Rektor UMY terpaksa harus mundur, karena penemuan dan kebijakan mereka dianggap melawan common-sense. Sungguh ironis, sebuah organisasi sebesar Muhammadiyah sebagai pengusung utama tajdid (pembaharuan) dalam bidang sosial dan pendidikan di tanah air sekalipun, takut melakukan kesalahan.
Viktor Frankl pernah bilang, bahwa ada empat anugerah Ilahi yang terdapat dalam diri manusia, yaitu (1) kesadaran diri (self-awareness); (2) suara hati (consciense,); (3) kehendak bebas (Independent will,); dan (4) daya imajinasi (imagination,). Semua itu berkaitan dengan kerja akal dan hati sekaligus, tempat di mana kreativitas harus dihargai secara selayaknya. Jika kita tak mampu menghargai sebuah imajinasi, maka jangan berharap dunia pendidikan kita akan menghasilkan ilmuwan berkaliber. Bahkan yang mungkin tumbuh adalah anak didik dengan rasa keputus-asaan, frustasi, dan jauh dari kreatif.
Edu tak tahu harus menafsir apa, ketika di ruang kelas ada seorang siswa mengajukan pertanyaan imajinatif dengan kata ’seandainya’ ,. ”Seandainya Khalifah Umar Ibnu Khtattab benar menjadi Nabi setelah Nabi Muhammad dan masih hidup di zaman sekarang, pasti dia akan memilih John Lennon sebagai Nabi sesudahnya.” ”Apa alasanmu?” Kata Edu. ”Iya dong, dengarlah lagu Imagine, sangat menyentuh sekaligus menggugah dalam kondisi dunia yang semakin tak jelas ini.” Waduh, apakah ini sebuah logika imajinatif atau tanda keputus-asaan seorang siswa? Wallahu a’lam bi al-sawab. 

DISIPLIN - jangan diberitahukan tapi dicontohkan

oleh : Ahmad Baedowi
credit thk : Kick Andy

Rizal Panggabean memberikan notasi sangat bagus tentang disiplin dalam praktek pendidikan kita. Kesimpulan sederhana dari tulisannya tentang “Disiplin Menjadi Musuh Utama Pendidikan” dalam Media Indonesia 15 Desember lalu amat menggelikan, yaitu bahwa siswa kita hanya didesain dalam sebuah lingkungan belajar yang akan menjadikannya sedikit lebih baik dari robot. “Pengertian disiplin yang berada di balik berbagai bentuk insiden kekerasan adalah praktik melatih siswa supaya mematuhi perintah dan peraturan, dan menghukum mereka bila tidak mematuhinya. Selaras dengan ini, dispilin adalah kepatuhan siswa terhadap peraturan dan perintah guru atau senior mereka. Selain itu, kepatuhan tersebut terbina karena adanya aneka hukuman yang menyertai ketidakpatuhan. Hukuman itu tidak semuanya berupa pemukulan atau hukuman fisik lainnya.”
Edu hanya ingin melanjutkan lagi pertanyaan artikel tersebut, apa yang salah dari pengertian disiplin di atas? Mengapa siswa, guru, orang tua dan masyarakat luas perlu mempertanyakan pendekatan disiplin di lingkungan sekolah? Ada beberapa cerita dari lapangan yang bisa kita ambil dan petik pelajaran soal disiplin ini.
Di sekolah berasrama seperti Sukma Bangsa, praktek disiplin dikenalkan melalui proses antrian saat mereka akan makan. Satu bulan pertama, anak-anak tak bisa sama sekali untuk belajar menoleransi, bahkan terhadap sesama temannya. Pembatas antrian yang terbuat dari besi stainless sempat dua kali roboh diterjang aksi berebutan yang memang mengasyikkan itu. Dua jalur antrian yang membatasi laki-laki dan perempuan terasa kurang efektif meski petugas kantin dan para guru asuh asrama mencoba membuat mereka lebih tertib dan disiplin dalam mengantri makanan.
Ketika keputus-asaan menerpa para pengasuh asrama dan petugas kantin, solusi efektif dari salah seorang guru muncul. Mereka membuat jalur ketiga, khusus untuk antrian para guru. Setiap hari para guru ikut antri mengambil makanan tanpa rasa malu dan lelah dalam memberi contoh dan perintah. Karena pembiasaan dan row model pembelajaran langsung didapat dari para guru mereka, akhirnya pada bulan keempat dan kelima suasana tertib dan disiplin dalam mengambil makanan pun terwujud. Bahkan para siswa sekarang bisa tersenyum dan rela memberi kesempatan kepada teman-temannya yang sakit dan merasa lapar tak tertahan untuk mengambil makan lebih dulu.
Cerita lainnya lagi-lagi datang dari kantin sekolah. Seorang guru diam-diam selalu mengamati tentang perilaku anak dalam mengambil nasi. Rata-rata anak mengambil nasi tanpa berhitung apakah akan bisa mereka habiskan atau tidak. Alhasil, setiap saat selalu banyak anak yang menyisakan makanannya. Dalam satu minggu hampir seluruh guru terlibat untuk memberi nasihat agar tak mengambil nasi terlalu banyak jika tak mampu menghabiskannya. Bahasa agama pun dicoba didoktrinkan, seperti mubazir temannya setan, tak berterima kasih dan sebagainya. Hasilnya tetap saja sama, praktek berdisiplin dalam mengambil nasi tak terjadi.
Akhirnya Edu mengusulkan agar setiap habis makan sisa nasi dikumpulkan dan ditimbang. Hasilnya sungguh memilukan, dalam seminggu sisa nasi mencapai kurang lebih 40-50 kilogram! Sisa nasi dalam seminggu ini kemudian difoto dan dipasang dalam majalah dinding sekolah, sambil diberi beragam nasihat dan foto-foto orang kelaparan seperti di Afrika agar anak-anak bisa mensyukuri dan menghargai makanan yang telah mereka terima. Cara seperti ini ternyata lebih efektif dalam memberi penyadaran konsep mubazir dan rasa berterima kasih. Minggu-minggu selanjutnya sisa nasi terus berkurang, bahkan hingga sekarang hanya 1-2 kilogram saja per-minggu.
Edu teringat ilustrasi hirarkis dari Schumacher, bahwa manusia pada dasarnya memiliki unsur penyadaran diri yang sangat spesifik dan mampu melakukan refleksi transendensi, bahkan dalam praktek berdisiplin sekalipun asal saja dirangsang oleh sebuah row model yang juga genuine dan generik. Dalam bahasa pedagogis ala James Baldwin, “children have never been very good at listening to their elders, but they have never failed to imitate them.” Telah lama pendidikan kita hanya mengajarkan disiplin dalam bungkusan indoktrinasi dan guru-guru kita tak memiliki kemampuan membungkus konsep disiplin dalam suri tauladan yang secara nyata dapat dipraktekkan oleh para siswanya. Wallahu a’lam bi al-sawab.

Sabtu, Februari 13, 2010

Moms and Dads,
mungkin di antara moms  n dads ada yang merupakan warga keturunan Chinese, di mana hari ini tgl.14 Februari merupakan hari Tahun Baru China, dan demi untuk menghormati budaya para leluhur merayakan bersama keluarga, maka kami mengucapkan pula :

Gong Xi Fa Cai! 

Happy Chinese New Year! Keong Hee Huat Chai! Kung Hei Fatt Choy!
Selamat Tahun Baru Cina! Chúc MừngNăm Mới! 恭喜發財! Bok Manhi Badeuseyo (새해 복 많이 받으세요)!

Semoga Allah SWT memberikan kesejahteraan dan harapan baru bagi moms and dads.

Jangan lupa, hadiri 

GEBYAR AL AZHAR 22-25  

20-21 FEBRUARI 2010

Jumat, Februari 12, 2010

SAMBUT GEBYAR AL AZHAR 22-25 !

Dalam rangka Gebyar Al Azhar 22-25 akan diselenggarakan berbagai acara antara lain :
Talk Show "Marissa Haque"
Bazaar
Pentas Seni
Lomba Mapel TK-SD
Ayo moms dads hadiri dan ramaikan berbagai acara tadi
20-21 Februari jam 08.00 - selesai

Kamis, Februari 11, 2010

Rapat Triwulan ke-3 Tahun ajaran 2009-2010


Assalamualaikum Wr.Wb,

Dear mom and dads
Pada tanggal 9 Pebruari 2010 jam 13.00 kemarin, Jamiyyah SD mengadakan rapat triwulan ke-1 semester 2 Th.2009-2010 bersama dengan kepala sekolah Bp. Budiyarno & para wakil kepala sekolah ( Bp. Ruswanto dan Bp.Dian ). Sementara pihak Jamiyyah yg hadir adalah M.Totik (ketua), M. Arka ( wakil kt.), M.Fadhil ( sekr 1), M.Nanet (sekr.2), M.Fendy ( Bendahara ), M.Adit, M.Gibran (sie sosial).
Rapat kali ini membahas segala permasalahan yang dikemukakan oleh para orangtua murid kepada pihak pengurus Jamiyyah. Rapat berjalan lancar dan semua keluhan orangtua yang rata-rata menyangkut permasalahan belajar mengajar akan segera ditindaklanjuti oleh pihak sekolah.
Berikut beberapa hal yang kami bahas dalam rapat :

1.       Perlakuan Pembina Pramuka Puteri
Diketahui dari para orangtua murid bahwa ternyata selama ini, untuk para siswa putri khususnya kelas 3 & 4, ada pemberian hukuman yang kurang pantas.
2.       Kebersihan WC dan perlengkapan sabun di dalam WC.
3.       Jajanan anak.
4.       Adab ajar mengajar oleh guru SDIA, terutama guru baru sbb:
  • Adab percakapan / tata bicara guru kepada anak yang kurang pantas, seperti pemberian “label” kepada anak dan cara menegur anak yang kurang pantas
  • Guru menyuruh anak menyalin dari papan tulis, dan langsung di hapus, sedangkan murid belum selesai mencatat.
  • Cara pembelajaran bidang studi Math dan Sains; dimana penyampaian materi kepada anak sulit untuk di pahami.
  • Pembahasan materi soal ulangan / PR; dimana jawaban benar-salahnya harus diberitahukan sehingga anak mengerti letak kesalahannya.

5.       Permasalahn kenaikan SPP yang terjadi setiap tahun ajaran.
6.       Guru BP; dalam menyelesaikan masalah anak harus sesuai dengan koridor psikolog perkembangan anak.
7.       Sehubungan dengan hal di atas, perlu dikaji ulang akan perlu tidaknya memakai jasa konsultan psikolog dalam menyelesaikan permasalahan yang timbul.

Senin, Januari 25, 2010

Homeschooling pada Anak Usia Dini


Dari redaksi :
Saat ini adalah saat di mana para orangtua sibuk mencari berbagai informasi sekolah yang tepat untuk anak mereka, baik tingkat KBTK maupun SD. Khusus kami soroti di sini adalah PAUD yakni untuk anak usia 2-5 tahun. Begitu banyaknya PAUD ditawarkan, semua dengan iming2 berbagai fasilitas. Namun pernahkan kita berpikir dari sisi kebutuhan anak ? Setiap anak adalah individu yang berbeda dan kebutuhannya pun berbeda pula. Jadi orangtua yang bijak dalam memilih sekolah untuk anak, mestinya menempatkan si anak sebagai faktor yang pegang peranan penting dalam memilih sekolah. Homeschooling merupakan salah satu alternatif bagi PAUD. Banyak pandangan negatif pada HS ini, tetapi sebaiknya kita melihat kembali, mengapa HS menjadi makin marak ? Karena biaya pendidikan yang semakin mahalkah ? Atau karena sekolah formal dianggap tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan anak karena hanya memandang anak sebagai obyek pendidikan dan bukan subyek pendidikan ? Mari kita mawas diri bersama.
Credit source : Sumardiono   
P endidikan anak usia dini (PAUD) adalah sebuah fenomena yang sedang marak pada saat ini. Para orangtua berduyun-duyun memberikan pendidikan kepada anak sejak usia dini, bahkan sejak mereka masih bayi dan dalam kandungan.Pada satu sisi, fenomena ini menunjukkan tingginya tingkat kepedulian orangtua atas pendidikan dan masa depan anak-anak. Stimulus sejak usia dini pada anak-anak merupakan sebuah hal yang positif untuk memicu perkembangan anak.
Anak yang digegas berprestasi akademis pada usia dini, belum tentu akan melahirkan karya-karya besar dan sukses di masa depannya.
Tetapi pada sisi lain, fenomena ini juga perlu dicermati. Terutama dalam aspek pertumbuhan anak yang menjadi subyek pendidikan. Jangan sampai anak berubah menjadi obyek yang dinilai dengan ukuran orang-orang dewasa. Demikian pun, materi yang dikembangkan untuk anak jangan sampai membuat anak justru kehilangan kesempatan untuk berkembang karena terlalu mendapat tekanan yang besar dalam perkembangan pada aspek tertentu, misalnya aspek kecerdasan kognitifnya.

Pada tahun 1970-an, fenomena orangtua yang mengirimkan anak ke sekolah formal sejak usia dini pernah diteliti oleh Dr. Raymond Moore dan isterinya, Dorothy Moore. Hasil penelitian yang dibukukan dalam "Better Late than Early" itu menyoroti tentang dampak buruk lepasnya keterikatan emosional anak dengan orangtua sejak usia dini. Menurut Moore, peran orangtua dan keluarga pada anak-anak usia dini sangat besar. Hubungan cinta dan ikatan emosional orangtua dengan anak tidak bisa digantikan oleh institusi formal apapun. Sekali kerusakan emosional itu terjadi pada anak, dampaknya bersifat jangka panjang dan tidak dapat diperbaiki.

Kehati-hatian juga diingatkan oleh Dewi Utama Faizah, pakar pendidikan anak usia dini dalam salah satu makalahnya "Anak-anak Karbitan". Dewi mengingatkan orangtua agar berhati-hati dan tidak terjebak pada kondisi "early ripe, early rot". Anak yang digegas berprestasi akademis pada usia dini, belum tentu akan melahirkan karya-karya besar dan sukses di masa depannya. Bisa jadi, pada usia dewasa anak tersebut mengalami kegagalan karena perkembangan emosionalnya tidak dapat digegas sebagaimana penggesan yang dilakukan terhadap perkembangan intelektualnya.

Dalam pendidikan anak usia dini, orangtua perlu berhati-hati agar tidak berasumsi bahwa prestasi akademik pada anak usia dini merupakan jaminan keberhasilan hidup anak-anak di usia dewasa. Asumsi ini dapat menjebak orangtua dengan program percepatan untuk memicu anak berprestasi akademis sejak usia dini dengan mengabaikan aspek perkembangan emosionalnya. Dewi mengutip kisah Edith (1952) yang terkenal jenius karena mendapat stimulus kognitif dari ibunya sejak janin.



Pada usia 1 tahun Edith telah dapat berbicara dengan kalimat sempurna, usia 5 tahun Edith menyelesaikan bacaan ensiklopedi Britannica, usia 12 tahun dia masuk universitas, usia 15 tahun menjadi guru matematika di Michigan State University. Ibunya, Aaron Stem, berhasil menjadikan Edith anak jenius karena terkait dengan kapasitas otak yang sangat tak berhingga. Namun kabar Edith selanjutnya tidak terdengar lagi ketika ia dewasa.

Banyak kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak, tidak menjadi sesuatu yang bemakna dalam kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa. Hal itu dikontraskan dengan Albert Einstein yang sempat dianggap bebal pada masa kecilnya, tetapi kemudian melahirkan karya-karya besar pada usia dewasanya.

Dalam pandangan yang serupa, para praktisi yang menjalani homeschooling sejak anak usia dini menikmati proses bersama yang mereka lakukan bersama anak-anak. Tetapi, pada saat bersamaan mereka berhati-hati dan mencari keseimbangan antara stimulus kognitif dan dukungan untuk perkembangan emosional anak. Untuk membangun hubungan personal dengan anak, para praktisi homeschooling tak segan untuk melakukan penyesuaian dalam proses kehidupan pribadi mereka.



“Satu test untuk menguji kebenaran sebuah prosedur pendidikan adalah kebahagiaan anak-anak. (Maria Montessori, 1870-1952)”
Sementara itu, Dita Maulina, praktisi homeschooling yang juga mantan dosen psikologi, menyoroti mengenai aspek fun (keriangan) dalam proses pendidikan anak usia dini. Menurutnya, dunia anak adalah dunia bermain. Aspek bermain yang menyenangkan bagi anak harus mendapatkan tekanan utama dalam pendidikan anak usia dini. Selain aspek fun, kesiapan anak untuk belajar juga menjadi perhatian Ria Heraldi, praktisi homeschooling yang tinggal di Palembang.

Praktisi homeschooling lain, Dominika Arumdati, yang banyak belajar dari prinsip-prinsip pendidikan Montessori menekankan mengenai penciptaan kebiasaan-kebiasaan positif pada anak melalui aktivitas-aktivitas kesehariannya. Dengan belajar dari praktek dan memperbaiki sendiri kesalahan-kesalahan yang dilakukannya, anak terbangun kultur belajarnya yang akan berguna untuk kehidupannya saat dewasa nanti. Proses ini menjadi penyeimbang sekaligus penekanan yang lebih diutamakan daripada sekedar stimulus-stimulus yang hanya mendorong perkembangan kognitif anak.

Masa Emas Montessori


“Kemampuan untuk mengajukan pertanyaan penting lebih bermanfaat daripada kemampuan untuk menjawab pertanyaan sederhana.”
Raymond Harris

“Otak kita dapat menyimpan jutaan fakta dan tetap tak terdidik ”
Alec Bourne


 Montessori adalah metode pendidikan yang dikembangkan oleh Dr. Maria Montessori (31 Agustus 1870- 6 Mei 1952). Dr. Maria Montessori percaya bahwa setiap anak adalah unique dan berbeda dari orang dewasa. Anak kecil bukanlah orang dewasa dengan tubuh kecil.
“Aruna bantu ini ya, mommy.”
“Aruna yang pegang sendoknya. Aruna yang tuang dan aduk-aduk!”
“Aruna pakai baju sendiri!”
Ini adalah ungkapan-ungkapan yang sering terdengar, yang menjadi bagian dari keseharian yang kami jalani bersama. Dapur, ruang makan, pekarangan rumah adalah ruang belajar yang tidak terbatas bagi anak saya. Saya memilih menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya: tidak bekerja di luar rumah dan mengambil tanggung jawab penuh untuk mendidik anak saya. Tak ada pembantu atau baby sitter. Maka tak heran jika anak saya yang berumur dua tahun ini selalu bersama saya, melihat, mendengarkan dan melakukan apa yang saya lakukan.
Praktis, kegiatan sehari-hari, menjadi tempat belajar kami bersama termasuk menjalankan pekerjaan kerumah tanggaan. Tantangannya justru pada saya bagaimana berusaha menjadikan pekerjaan itu bukanlah suatu beban, berusaha tidak mengeluh di depan anak, dan selalu menyadari bahwa ini adalah bagian dari pembelajaran bagi anak saya. Tidak mudah karena dalam prakteknya saya sendiri tidak lepas dari kebosanan dan letih fisik akibat pekerjaan rutin yang terus menerus. Mengingat situasi ini, maka saya mencari berbagai buku yang bisa mengembangkan dan menyeimbangkan bagaimana mendidik anak saya terutama dalam hidup sehari-hari.

Membaca buku Teaching Montessori In The Home, The Preschool Years (Elizabet G. Hainstock, Plume, 1997) membantu memperkaya saya dalam memahami tugas dan tanggung jawab sebagai ibu sekaligus pendidik. Latihan tentang hidup sehari-hari termasuk melakukan pekerjaan di rumah, saya pergunakan untuk mengajarkan anak agar bisa menanggapi hal-hal yang ada di lingkungan sekitarnya. Tentu saja berangkat dari hal-hal yang bersifat rutin dan sederhana namun bisa selalu bermakna baru dan menyenangkan bagi si anak. Anak-anak menyukai perulangan namun bukan yang berlebihan. Ini membantu mereka memahami bagaimana pola sebuah pekerjaan bisa diselesaikan. Mereka akan belajar bahwa ada tahapan yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Ini sama dengan mengajarkan logika dan tata urutan secara sederhana.

Hal yang sebaiknya dicapai dalam pengajaran adalah semangat di dalamnya dan bukan sekedar keterampilan mekanis dari seorang ilmuwan; dengan demikian arah persiapan seharusnya mengacu pada semangat dan bukan pada mekanisme.
(Maria Montessori, 1870-1952)


Alam memberikan kesempatan agar kita bisa mempelajari sesuatu pada waktunya. Montesssori menyebut periode usia dini sebagai Sensitive Periods atau masa-masa ‘emas’ perkembangan anak ketika mereka mudah mempelajari sesuatu. Apabila periode ini ini terlewatkan, maka ia akan hilang begitu saja. (Hainstock, 1997:6-7). Ketika periode ‘emas’ ini dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan mengamati kebutuhan belajarnya secara khusus sesuai dengan tahapan umurnya, ini bisa digunakan untuk membantunya memahami dan menguasai lingkungannya.
[Montessori] menyatakan bahwa pikiran anak itu seperti “otak spons” karena kemampuannya yang luar biasa untuk belajar dan memahami dengan mudah dan tanpa sadar dari dunia di sekitarnya. … [Montessori] menegaskan, bagaimanapun, bahwa “lingkungan seharusnya mengangkat si anak dan bukan membentuknya”. (Hainstock, 1997:7-8, istilah sebagaimana aslinya.
Montessori percaya bahwa seorang anak belajar dari lingkungan sekitarnya. Sejak berusia dua tahun, anak punya keingintahuan yang sangat besar, senang bereksplorasi, dan senang mencoba hal baru. Karenanya, kita sebaiknya bisa melihat bahwa setiap anak memiliki kepribadian yang ingin dikembangkannya sendiri: mereka memiliki inisiatif, mereka memilih sendiri apa yang ingin mereka lakukan, bertahan untuk terus melakukannya dan merubahnya sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya sendiri. Mereka sangat ‘hand-minded’ dan senang mengamati berbagai hal dan meresponnya dengan cara mereka sendiri-sendiri sesuai dengan perkembangan motorik, sensorik dan bahasa melalui penggunaan kelima panca indera mereka.

Tabel: Masa ‘Emas’ Menurut Montessori
USIA ANAK (tahun)
PERIODE PERKEMBANGAN
Lahir-3
Perkembangan kepekaan inderawi dan pikiran yang sudah dapat menyerap stimulus melalui panca indera
1 ½ - 3
Perkembangan kepekaan dan kemampuan berbahasa (menirukan, berkomunikasi dua arah)
1 ½ - 4
Perkembangan kordinasi dan gerakan otot
Tertarik dengan objek-objek yang kecil
2 – 4
Pematangan kordinasi gerakan
Peduli/mempertanyakan kebenaran dan kenyataan
Sadar akan ruang dan waktu
2½ - 6
Pematangan pada kepekaan inderawi
3 - 6
‘Tunduk’ pada pengaruh orang dewasa
3½ - 4½
Perkembangan kemampuan menulis
4 – 4½
Perkembangan kemampuan fisik
4½ - 5½
Perkembangan kemampuan membaca
Sumber: Hainstock, 1997:7