Sore sudah menjelang. Mendung semakin tebal. Jam sudah menunjukkan pukul 15.30. Di sepanjang jalan Puspogiwang 3, di belakang sekolah, mobil yang akan menjemput anak-anak mulai berebut lahan parkir yang sangat terbatas. Jangan ditanya dengan kondisi jalan Pamularsih, pasti lebih padat lagi. Para orangtua berharap-harap cemas, kira-kira mana yang lebih dahulu datang, anak mereka atau hujan ? Trauma masih menyelimuti sebagian dari kami, ketika Jumat minggu lalu, Semarang dilanda hujan badai. Petir menyambar-nyambar dengan sangat dasyat. Anak-anak basah kuyup ditimpa hujan ketika selesai mengikuti kegiatan ekskul. Banyak di antaranya menangis ketakutan. Jangankan mereka, kami yang orangtua saja ketakutan mendengar bunyi petir yang seperti ledakan bom di telinga. Semoga saja, sore ini cerah..begitu kami berharap.
Sambil menanti anak-anak pulang, iseng-iseng saya berjalan ke arah RM Mbok Berek, kira-kira hanya 5 meter dari sekolah. Saya sangat ingin tahu, apakah bapak tua penambal ban sepeda itu masih berada di situ ? Ternyata masih ! Pak tua itu seolah tidak peduli akan mendung. Selama 5 tahun saya melewati jalan ini, pak tua itu masih terus setia menempati pinggir gang, sambil berharap ada orang yang akan memanfaatkan keahlian satu-satunya, menambal ban sepeda. Dulu saya pernah iseng bertanya pada orangtua murid kelas senior, sejak kapan pak tua itu berada di situ ? "Sebelum saya menyekolahkan anak di sini,pak tua itu sudah bekerja di situ", jawab si ibu. Alamak..berarti bapak tua itu sudah bertahun-tahun hidup seperti itu. Pernah suatu siang saya lewat berjalan kaki, pak tua itu tidur siang sambil duduk di pinggir jalan. Rasanya sangat kontras kehadiran pak tua tersebut ditengah lingkungan sekolah yang terkenal elite ini.
Selain pak tua, saya bertemu pula dengan seorang nenek tua yang sudah terhuyung-huyung jalannya. Di tangan kanannya nampak dia membawa plastik. Ternyata isinya jajanan kuno yang dulu dikenal dengan nama berondong. Si nenek berjalan dari halaman depan sekolah hingga halaman belakang. Setiap orang yang dijumpai, ditawari jajanannya. Harganya sangat murah, 3000 perak untuk 10 buah. Tapi saya lihat hingga si nenek pergi ke arah jalan Siliwangi, tak seorangpun di sekolah itu yang membeli makanannya. Berondong yang sudah kuno itu, tentu saja sangat tidak menarik hati bagi anak-anak, juga bagi para orangtua.
Saya memang tidak punya foto aslinya, tapi kira-kira beginilah
penampilan pak tua tersebut.
Melihat dua peristiwa itu, terasa sekali ironi kehidupan dalam tatanan masyarakat kita. Sebagai sekolah Islam yang elite, di mana masyarakat yang menyekolahkan putra-putrinya di situ tentu juga termasuk kaum elit Islam, semestinya kita membawa manfaat yang besar bagi masyarakat sekitar. Bukan hanya pihak sekolah, tapi juga kita para orangtua. Melalui 2 pertemuan tadi, Allah seolah ingin mengingatkan kita agar kita tidak menjadi manusia-manusia penghuni istana gading, sibuk dengan diri sendiri & keluarga kita. Tapi Allah ingin kita menjadi manusia yang lebih berguna bagi sesama kita, terutama masyarakat sekitar. Karena manusia Islam sejati seharusnya adalah manusia yang bisa menyebarkan ajaran Islamnya dengan menjadikan dirinya bermanfaat bagi sesama yang sedang menderita.Tak kan ada gunanya kita mendalami ajaran Islam tapi menutup mata pada penderitaan di sekitar kita. Semoga kita akan lebih membuka mata kita. Bukankah nanti saat di akhirat kita akan ditanya, apa manfaat kehadiranmu bagi manusia lain ? Sudahkah anda siap menjawabnya ? Mari kita bersiap karena kita tidak akan tahu kapan maut menjemput.
Hari ini anak-anak kelas 3 berangkat sekolah dengan sangat gembira karena mereka akan diajak bapak ibu guru berkunjung ke kebun obat Ny. Meneer di Ungaran. Sebelumnya mereka akan diajak berkunjung terlebih dahulu ke pabrik jamu ternama tersebut di jl. raya Kaligawe Semarang.
Di halaman sekolah sudah terparkir 2 bus DAMRI AC yang disewa oleh pihak sekolah bersama dengan Jam'iyyah untuk mengantarkan anak-anak tersebut ke tempat tujuan. Ya, salah satu pemanfaatan Dana Jam'iyyah memang adalah untuk membantu penyelenggaraan Puncak Tema, sehingga kegiatan bisa terselenggara dengan nyaman dan aman.
Murid-murid kelas 1 semula sangat girang, mengira bahwa merekalah yg akan diajak pergi, karena bis diparkir dekat sekali dengan halaman kelas mereka. . Sabar ya nak, giliran kalian nanti saat kelas 2. Tahun ajaran ini, anak-anak kelas 1 akan pergi berkunjung ke rumah teman, sehingga tidak akan bepergian menaiki bus.
Tepat pukul 08.00 setelah melakukan ikrar bersama di lapangan, anak-anak kelas 3 dengan dipimpin oleh pak Deddy, wali murid kelas 3A, diajak berbaris dengan tertib menuju ke dalam bus. Empat orang pengurus Jam'iyyah yang bertugas hari itu mendampingi perjalanan anak-anak sudah siap sejak jam 07.00 di sekolah, yaitu m.Nanet, m.Fadhil, m.Reihan dan m.Isya. Berdasarkan laporan lisan yang masuk, acara berlangsung meriah dan lancar. Tapi mungkin ada yg perlu dicermati oleh Bapak Ibu guru, bahwa pihak tuan rumah yakni Ny.Meneer, nampaknya tidak terlalu siap tak seperti halnya Teh Botol Sosro. Bisa jadi karena mereka memang masih baru dalam menyelenggarakan studi wisata semacam ini. Namun secara umum, anak-anak sangat menyukainya. ( Dhil's mom, I 've been waiting so long for your news. Send it to me please )
All the pics, credit thank : Mama Fadhil
Belum semua foto berhasil kami upload karena kondisi cuaca yg buruk membuat koneksi inet melambat very very slow...like a snail. Belum lagi listrik yang berkali-kali mati sehingga postingan sering gagal.
Anak-anak diantar ke sana kemari, les itu les ini. Anak-anak mulai bersekolah ketika baru beberapa bulan terlahir ke dunia. Balita digiring setiap hari ke kelompok bermain. Mereka juga harus masuk TK favorit, SD favorit, SMP, kemudian SMU unggulan, dan akhirnya sukses masuk perguruan tinggi ternama, agar berhasil di dunia kerja.
Itulah potret kebanyakan anak-anak kini. Semua fasilitas tersedia: guru privat, bimbingan belajar, kursus-kursus, mainan canggih yang memberi stimulasi pada otak-semuanya! Tetepi, benarkah semua itu menjamin kebahagiaan anak? Apakah menjadikan anak sempurna, menjamin pula kebahagiaannya?
Terdorong fakta jumlah remaja pengunjung klinik psikiatrinya yang terus bertambah, Elisabeth Guthrie mencoba menyingkap masalah mereka dan berbagai faktor yang mendorong para orangtua menjadi orangtua yang kompetitif, dalam Anak Sempurna atau Anak Bahagia?: Dilema Orangtua Modern. Apa saja rekomendasi Guthrie untuk mengatasi masalah ini ? Bagaimana sarannya dalam memastikan perkembangan bakat setiap anak yang sesungguhnya sangat unik? Pengalaman selama 15 tahun tertuang dalam buku ini untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.
Elisabeth Guthrie, M.D., adalah Direktur Klinis Diagnosis Pembelajaran Rumah Sakit Anak Blythedale di Valhalla, New York. Dia adalah ibu tiga orang anak, tinggal di Riverdale, New York.
Kathy Matthews adalah penulis berbagai buku laris termasuk The Savvy Mom's Guide to Medical Care, yang ditulisnya bersama Dr. Pam Gallin. Ibu dua anak laki-laki ini tinggal di Pelham, New York.
Kita mungkin sering mendengar ungkapan, sebuas-buasnya harimau takkan memakan anaknya sendiri. Tapi benarkah ungkapan itu ? Tahukan moms dads kalau sebagian besar pelaku penyiksaan terhadap anak adalah orang terdekatnya sendiri tak terkecuali orangtua sendiri ? Buku berikut merupakan kisah nyata kehidupan Dave Pelzer yang mengalami "child abusement" di tangan ibunya sendiri. Buku ini sangat menarik untuk dibaca, merupakan salah satu judul dari trilogi autobiographie Dave. Bisa didapat di toko buku Gramedia, sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Yang ingin pinjam, boleh menghubungi penulis ( mama Totik )..asal dikembalikan ya.
Sinopsis Buku:
Dewasa ini kita sering mendengar peristiwa child abuse - penyiksaan anak. Tetapi apa dan bagaimana sesungguhnya yang dialami dan diderita oleh anak yang menjadi korbannya? Buku ini membuka wawasan kita, mencerahkan dan mendidik. David mengajak kita ikut mengalami rasa takutnya, rasa kekalahannya, rasa kesendiriannya, rasa sakitnya, dan rasa marahnya, sampai pada harapan terakhirnya. Dengan masuk ke dalam alur itu, menjadi jelas bagi kita betapa menyakitkannya dunia gelap yang diderita anak-anak korban child abuse. Bahkan secara lebih detail, kita bisa merasakan tangisan anak-anak itu melalui mata, telinga, dan badan David Pelzer. Dengan membaca buku ini kita juga bahkan bisa merasakan keteguhan hati David untuk keluar dari siksaan yang tak kunjung henti menuju kemenangan.
Dua buku yang lain adalah :
Bagi yang ingin mengetahui lebih banyak kisah Dave Pelzer dan berbagai aktivitasnya saat ini, silakan klik official's website Dave Pelzer di http://www.davepelzer.com/
Untuk memberikan pola pengasuhan yang tepat pada anak-anak kita, seyogyanya orangtua sedikit banyak belajar mengenai psikologi perkembangan anak.Karena dengan bekal pengetahuan psikologi yang cukup maka kita akan lebih bijak dalam menghadapi anak dan segala permasalahannya. Ilmu psikologi sendiri sebenarnya tergolong pada common sense knowledge atau ilmu pengetahuan umum, yang bisa dipelajari oleh siapa saja. Bagi para orangtua anak2 SDI AA 25 yang rata2 mengenyam pendidikan tinggi, saya rasa belajar ilmu psikologi tidaklah sulit, hanya tinggal kemauan dan tekat untuk belajar saja. Percayalah, kita akan menjadi sangat terbantu jika mau memperlajari psikologi anak, karena sesungguhnya yang mengetahui tentang anak kita adalah orangtua sendiri, bukan dokter anak, bukan psikolog, bukan guru kelas. Jadi, mari kita belajar lagi. Sekarang penulis ingin memperkenalkan salah satu tokoh psikologi perkembangan anak yang sangat besar jasanya bagi ilmu psikologi, Jean Piaget. Semoga dengan mengenalnya, kita akan makin tertarik untuk belajar, demi anak kita.
Jean Piaget (lahir di Neuchâtel, Swiss, 9 Agustus1896 – meninggal 16 September 1980 pada umur 84 tahun) adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan psikolog perkembangan Swiss, yang terkenal karena hasil penelitiannya tentang anak-anak dan teori perkembangan kognitifnya. Menurut Ernst von Glasersfeld, Jean Piaget adalah juga "perintis besar dalam teori konstruktivis tentang pengetahuan"[1]. Karya Piaget pun banyak dikutip dalam pembahasan mengenai psikologi kognitif.
Riwayat Singkat
Piaget dilahirkan di Neuchâtel di wilayah Swiss
yang berahasa Perancis. Ayahnya, Arthur Piaget, adalah seorang profesor dalam
sastra Abad Pertengahan di Universitas Neuchâtel. Piaget adalah seorang anak
yang terlalu cepat menjadi matang, yang mengembangkan minatnya dalam biologi
dan dunia pengetahuan alam, khususnya tentang moluska (kerang-kerangan), dan
bahkan menerbitkan sejumlah makalah sebelum ia lulus dari SMA. Malah, kariernya
yang panjang dalam penelitian ilmiah dimulai ketika ia baru berusia 11 tahun,
dengan diterbitkannya sebuah makalah pendek pada 1907 tentang burung gereja
albino. Sepanjang kariernya, Piaget menulis lebih dari 60 buah buku dan ratusan
artikel.
Piaget memperoleh gelar Ph.D. dalam ilmu alamiah
dari Universitas Neuchâtel, dan juga belajar sebentar di Universitas Zürich.
Selama masa ini, ia menerbitkan dua makalah filsafat yang memperlihatkan arah
pemikirannya pada saat itu, tetapi yang belakangan ditolaknya karena
dianggapnya sebagai karya tulis seorang remaja. Minatnya terhadap
psikoanalisis, sebuah aliran pemikiran psikologi yang berkembang pada saat itu,
juga dapat dicatat mulai muncul pada periode ini.
Belakangan ia pindah dari Swiss ke
Grange-aux-Belles, Perancis, dan di sana ia mengajar di sekolah untuk anak-anak
lelaki yang dikelola oleh Alfred Binet, pengembang tes intelegensia Binet.
Ketika ia menolong menandai beberapa contoh dari tes-tes intelegensia inilah
Piaget memperhatikan bahwa anak-anak kecil terus-menerus memberikan jawaban
yang salah untuk pertanyaan-pertanyaan tertentu. Piaget tidak terlalu
memperhatikan pada jawaban-jawaban yang keliru itu, melainkan pada kenyataan
bahwa anak-anak yang kecil itu terus-menerus membuat kesalahan dalam pola yang
sama, yang tidak dilakukan oleh anak-anak yang lebih besar dan orang dewasa.
Hal ini menyebabkan Piaget mengajukan teori bahwa pemikiran atau proses
kognitif anak-anak yang lebih kecil pada dasarnya berbeda dengan orang-orang
dewasa. (Belakangan, ia mengajukan teori global tentang tahap-tahap
perkembangan yang menyatakan bahwa setiap orang memperlihatkan pola-pola
kognisi umum yang khas dalam setiap tahap perkembangannya.) Pada 1921, Piaget
kembali ke Swiss sebagai direktur Institut Rousseau di Geneva.
Pada 1923, ia menikah dengan Valentine Châtenay,
salah seorang mahasiswinya. Pasangan ini memperoleh tiga orang anak, yang
dipelajari oleh Piaget sejak masa bayinya. Pada 1929, Jean Piaget menerima
jabatan sebagai Direktur Biro Pendidikan Internasional, yan tetap dipegangnya
hingga 1968. Setiap tahun, ia menyusun "Pidato Direktur"nya untuk
Dewan BPI itu dan untuk Konferensi Internasional tentang Pendidikan Umum, dan
di dalamnya ia secara eksplisit mengungkapkan keyakinan pendidikannya.
Tahap-tahap perkembangan kognitif
Piaget menjabat sebagai profesor psikologi di
Universitas Geneva dari 1929 hingga 1975 dan ia paling terkenal karena menyusun
kembali teori perkembangan kognitif ke dalam serangkaian tahap, memperluas
karya sebelumnya dari James Mark Baldwin, menjadi empat tahap perkembangan yang
lebih kurang sama dengan (1) masa infancy, (2)
pra-sekolah, (3) anak-anak, dan (4) remaja. Masing-masing
tahap ini dicirikan oleh struktur kognitif umum yang mempengaruhi semua
pemikiran si anak (suatu pandangan strukturalis yang dipengaruhi oleh filsuf
Immanuel Kant). Masing-masing tahap mewakili pemahaman sang anak tentang
realitas pada masa itu, dan masing-masing kecuali yang terakhir adalah suatu
perkiraan (approximation) tentang realitas yang tidak memadai. Jadi, perkembangan
dari satu tahap ke tahap yang lainnya disebabkan oleh akumulasi kesalahan di
dalam pemahaman sang anak tentang lingkungan nya; akumulasi ini pada akhirnya
menyebabkan suatu tingkat ketidakseimbangan kognitif yang perlu ditata ulang
oleh struktur pemikiran.
Keempat tahap perkembangan itu digambarkan dalam
teori Piaget sebagai
Tahap sensorimotor: dari lahir
hingga 2 tahun (anak mengalami dunianya melalui gerak dan inderanya serta
mempelajari permanensi obyek)