Minggu, Februari 14, 2010

DISIPLIN - jangan diberitahukan tapi dicontohkan

oleh : Ahmad Baedowi
credit thk : Kick Andy

Rizal Panggabean memberikan notasi sangat bagus tentang disiplin dalam praktek pendidikan kita. Kesimpulan sederhana dari tulisannya tentang “Disiplin Menjadi Musuh Utama Pendidikan” dalam Media Indonesia 15 Desember lalu amat menggelikan, yaitu bahwa siswa kita hanya didesain dalam sebuah lingkungan belajar yang akan menjadikannya sedikit lebih baik dari robot. “Pengertian disiplin yang berada di balik berbagai bentuk insiden kekerasan adalah praktik melatih siswa supaya mematuhi perintah dan peraturan, dan menghukum mereka bila tidak mematuhinya. Selaras dengan ini, dispilin adalah kepatuhan siswa terhadap peraturan dan perintah guru atau senior mereka. Selain itu, kepatuhan tersebut terbina karena adanya aneka hukuman yang menyertai ketidakpatuhan. Hukuman itu tidak semuanya berupa pemukulan atau hukuman fisik lainnya.”
Edu hanya ingin melanjutkan lagi pertanyaan artikel tersebut, apa yang salah dari pengertian disiplin di atas? Mengapa siswa, guru, orang tua dan masyarakat luas perlu mempertanyakan pendekatan disiplin di lingkungan sekolah? Ada beberapa cerita dari lapangan yang bisa kita ambil dan petik pelajaran soal disiplin ini.
Di sekolah berasrama seperti Sukma Bangsa, praktek disiplin dikenalkan melalui proses antrian saat mereka akan makan. Satu bulan pertama, anak-anak tak bisa sama sekali untuk belajar menoleransi, bahkan terhadap sesama temannya. Pembatas antrian yang terbuat dari besi stainless sempat dua kali roboh diterjang aksi berebutan yang memang mengasyikkan itu. Dua jalur antrian yang membatasi laki-laki dan perempuan terasa kurang efektif meski petugas kantin dan para guru asuh asrama mencoba membuat mereka lebih tertib dan disiplin dalam mengantri makanan.
Ketika keputus-asaan menerpa para pengasuh asrama dan petugas kantin, solusi efektif dari salah seorang guru muncul. Mereka membuat jalur ketiga, khusus untuk antrian para guru. Setiap hari para guru ikut antri mengambil makanan tanpa rasa malu dan lelah dalam memberi contoh dan perintah. Karena pembiasaan dan row model pembelajaran langsung didapat dari para guru mereka, akhirnya pada bulan keempat dan kelima suasana tertib dan disiplin dalam mengambil makanan pun terwujud. Bahkan para siswa sekarang bisa tersenyum dan rela memberi kesempatan kepada teman-temannya yang sakit dan merasa lapar tak tertahan untuk mengambil makan lebih dulu.
Cerita lainnya lagi-lagi datang dari kantin sekolah. Seorang guru diam-diam selalu mengamati tentang perilaku anak dalam mengambil nasi. Rata-rata anak mengambil nasi tanpa berhitung apakah akan bisa mereka habiskan atau tidak. Alhasil, setiap saat selalu banyak anak yang menyisakan makanannya. Dalam satu minggu hampir seluruh guru terlibat untuk memberi nasihat agar tak mengambil nasi terlalu banyak jika tak mampu menghabiskannya. Bahasa agama pun dicoba didoktrinkan, seperti mubazir temannya setan, tak berterima kasih dan sebagainya. Hasilnya tetap saja sama, praktek berdisiplin dalam mengambil nasi tak terjadi.
Akhirnya Edu mengusulkan agar setiap habis makan sisa nasi dikumpulkan dan ditimbang. Hasilnya sungguh memilukan, dalam seminggu sisa nasi mencapai kurang lebih 40-50 kilogram! Sisa nasi dalam seminggu ini kemudian difoto dan dipasang dalam majalah dinding sekolah, sambil diberi beragam nasihat dan foto-foto orang kelaparan seperti di Afrika agar anak-anak bisa mensyukuri dan menghargai makanan yang telah mereka terima. Cara seperti ini ternyata lebih efektif dalam memberi penyadaran konsep mubazir dan rasa berterima kasih. Minggu-minggu selanjutnya sisa nasi terus berkurang, bahkan hingga sekarang hanya 1-2 kilogram saja per-minggu.
Edu teringat ilustrasi hirarkis dari Schumacher, bahwa manusia pada dasarnya memiliki unsur penyadaran diri yang sangat spesifik dan mampu melakukan refleksi transendensi, bahkan dalam praktek berdisiplin sekalipun asal saja dirangsang oleh sebuah row model yang juga genuine dan generik. Dalam bahasa pedagogis ala James Baldwin, “children have never been very good at listening to their elders, but they have never failed to imitate them.” Telah lama pendidikan kita hanya mengajarkan disiplin dalam bungkusan indoktrinasi dan guru-guru kita tak memiliki kemampuan membungkus konsep disiplin dalam suri tauladan yang secara nyata dapat dipraktekkan oleh para siswanya. Wallahu a’lam bi al-sawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar