Minggu, Februari 28, 2010

Olympiade & Lomba Kompetensi Mapel Al Azhar se Indonesia ke-10 tahun 2010 : BERSEMANGAT PEJUANG-PEJUANG CILIK !

Assalamualaikum Wr.Wb

Dear Moms and Dads,

Lima (5) hari menjelang keberangkatan para siswa siswi AA 25 ke Olympiade & Lomba Kompetensi Mapel Al Azhar se Indonesia ke-10, segala bentuk persiapan sudah disusun dengan matang oleh pihak sekolah, para guru pengampu dan bahkan orangtua murid sendiri. 

Jumat, tanggal 5 Maret 2010 nanti pukul 07.30 rombongan siswa-i, guru dan orangtua peserta akan resmi diberangkatkan menuju SDI Al Azhar 19 Sentra Primer, Jl. Dr.Sumarno, Pondok Gebang, Jakarta Timur untuk mengikuti lomba pada hari Sabtu, 6 Maret 2010 nanti. Diketahui seluruh peserta dari AA 25 berjumlah 20 anak, yang nantinya akan didampingi oleh 17 orang guru dan 13 orangtua murid. Sehingga seluruhnya total berjumlah 50 orang, jumlah yang cukup besar tentunya. Rombongan akan menggunakan bus PO Nugroho, yang tentunya diharapkan akan lebih baik dari armada tahun sebelumnya. Rombongan akan langsung menuju ke kampus SD AA 19 dan menginap di sana selama 2 malam, hingga Sabtu malam. Minggu pagi, 7 Maret 2010 rombongan akan bertolak ke tempat wisata untuk melakukan refreshing dan sore harinya langsung melakukan perjalanan kembali ke Semarang. What a busy and tiring day ! 

Namun betapa pun perjalanan nanti akan menjadi perjalanan yang panjang, melelahkan dan penuh perjuangan, saya yakin para peserta tidak akan kendor semangatnya. Sejak jauh-jauh hari, para guru dan sesama orangtua peserta sudah memompakan motivasi dan spirit bagi peserta. Diharapkan tahun ini, prestasi yang diraih akan lebih meningkat. Boleh berbangga nih, tahun kemarin prestasi AA 25 jauh melebihi prestasi SDI Al Azhar lainnya di kota Semarang, yakni AA 14 & 29. Mudah-mudahan dengan segala persiapan yang lebih matang, para peserta bisa meraih prestasi terbaik. Saya sendiri sangat mengharapkan agar bidang-bidang yang jarang dimenangkan oleh siswa/i yakni Agama, Sosial, Math, dll kali ini bisa meraih prestasi terbaik. BERSEMANGAT !! Jiao You !!

Dan inilah nama-nama para pejuang kecil itu  


No Jenis Lomba Nama Kelas Ket
1
Agama dan Al Quran Anfassa Nafhan Athallah N
4
 

  Zulfa Ajrina Fitri
5
 
2
Matematika Raihan Daffa Setiyo Pramudya
4
 

  Ghufron Fasa Ahliya
4
 

  Maulana Gibran
5
 

  Ali Zein
5
 
3
IPA/Sains Alya Berliana Suharso
4
 

  Sulthan Naufal Widad
4
 

  Reyhan Anindya Aryatikta
5
 

  Amelia Happy Meirizky
5
 
4
Cipta dan Baca Puisi Nawang Susan Dewanti
 
5
IPS/PKN Radtya Valeri Aurelia Rayhan
4
 

  Cynthia Andrina Illahi Hermawan
5
 
6
Bahasa Inggris Kevin Royan Yamari
 
7
Solo Vokal Seviana Erwina Putri
 
8
Bercerita Amira Marsya
 
9
Pildacil Alif Aziz Naristiana Putra
 
10
MHQ Daham Raihan
 
11
Adzan Rizqullah Ahnaf Rafi Sutoko
 
12
IT Shelin Asmarani
 

Senin, Februari 22, 2010

Gebyar Al Azhar 2010


Lima Pendekar Beraksi

 
Mejeng dulu sebelum menyambut Marissa

Lima pendekar versi 2 siap pamerkan senyum manisnya
( Kevin..Ilham..where are you sis ? )

  
Foto bareng aktor terkenal di AA 25

M.Ninin & Nanet : Kayaknya kita lebih cakep deh drpd Marissa

  
Marching Band

 
Marching Band lagi

 
Daftar ulang lomba
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  
 

 

Jumat, Februari 19, 2010

Here's coming : GEBYAR AL AZHAR 22-25

Tak terasa, hari gawe besar sudah datang. Besok pagi tanggal 20 Februari, Gebyar AA 22-25 akan resmi dibuka, dengan pertunjukkan drumband AA 25. Dilanjutkan dengan seminar Marissa Haque, mengambil tema : membongkar kesalahan orangtua selama ini dalam mendidik anak. Sebuah tema yang sangat menarik tentunya. Hanya saja, karena selama ini Marissa lebih banyak diketahui kiprahnya di dunia politik, tak urung banyak orangtua yang meragukan pengetahuannya di bidang psikologi perkembangan anak.

Selain seminar, di halaman SD akan diselenggarakan Panggung Maulud Nabi, berisi Lomba Sholawat dan banyak lomba yang lain. Juga dimeriahkan bazaar tentunya.

Pada hari ke-2, tanggal 21 Februari akan diselenggarakan berbagai macam lomba, antara lain Speeling Bee, Fashion Show, Membuat Poster, Komputer, Olimpiade Sains & Math, Telling Story, dll.

Moms n dads, mari datang ramai-ramai...kita dukung anak-anak kita dalam berlomba. Event ini juga bisa menjadi ajang gathering para orangtua. Jadi jangan lewatkan....

Senin, Februari 15, 2010

Pygmalion Effect ( Rules of Positive Thinking.. )

credit thk : mama Nanet

Pygmalion adalah seorang pemuda yang berbakat seni memahat. Ia sungguh piawai dalam memahat patung. Karya ukiran tangannya sungguh bagus.Tetapi bukan kecakapannya itu menjadikan ia dikenal dan disenangi teman dan tetangganya.

Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik.
Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel. Tetapi Pygmalion berkata, "Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini."
Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik, "Kikir betul orang itu."
Tetapi Pygmalion berkata, "Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu".
Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, "Kasihan, anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya."

Itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain.

Pada suatu hari Pygmalion mengukir sebuah patung wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu berukuran manusia sungguhan. Ketika sudah rampung, patung itu tampak seperti manusia betul. Wajah patung itu tersenyum manis menawan, tubuhnya elok menarik.

Kawan-kawan Pygmalion berkata, "Ah,sebagus-bagusnya patung, itu cuma patung, bukan isterimu."

Tetapi Pygmalion memperlakukan patung itu sebagai manusia betul. Berkali-kali patung itu ditatapnya dan dielusnya.

Para dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pygmalion, lalu mereka memutuskan untuk memberi anugerah kepada Pygmalion, yaitu mengubah patung itu menjadi manusia betul. Begitulah, Pygmalion hidup berbahagia dengan isterinya itu yang konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani.

Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk mengambarkan dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif.

Misalnya,
Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.
Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas.
Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh keberhasilan.

Dampak pola berpikir positif itu disebut dampak Pygmalion.

Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif maupun negatif.

Kalau kita menganggap tetangga kita judes sehingga kita tidak mau bergaul dengan dia, maka akhirnya dia betul-betul menjadi judes.
Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak jujur, akhirnya ia betul-betul menjadi tidak jujur.
Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan gagal.

Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan, bagaimana besar dampaknya bila kita berpola pikir positif seperti itu. Kita tidak akan berprasangka buruk tentang orang lain.

Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek tentang orang lain. Kita tidak menduga-duga yang jahat tentang orang lain.

Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja bahan untuk menduga hal-hal yang buruk. Jika ada seorang kawan memberi hadiah kepada kita, jelas itu adalah perbuatan baik. Tetapi jika kita berpikir buruk,kita akan menjadi curiga, "Barangkali ia sedang mencoba membujuk," atau kita mengomel, "Ah, hadiahnya cuma barang murah." Yang rugi dari pola pikir seperti itu adalah diri kita sendiri.Kita menjadi mudah curiga. Kita menjadi tidak bahagia.

Sebaliknya, kalau kita berpikir positif, kita akan menikmati hadiah itu dengan rasa gembira dan syukur, "Ia begitu murah hati. Walaupun ia sibuk, ia ingat untuk memberi kepada kita."

Warna hidup memang tergantung dari warna kaca mata yang kita pakai.
Kalau kita memakai kaca mata kelabu, segala sesuatu akan tampak kelabu. Hidup menjadi kelabu dan suram. Tetapi kalau kita memakai kaca mata yang terang, segala sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata yang berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam. Tetapi kaca mata yang damai akan menjadikan hidup kita damai.

Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan.

Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan. Keluarga menjadi hangat. Kawan menjadi bisa dipercaya. Tetangga menjadi akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah. Seperti Pygmalion, begitulah.

MAKE SURE YOU ARE PYGMALION and the world will be filled with positive people only.......how nice!!!!

Komunikasi Tuhan dan Manusia : "AKU Tidak Pernah Meninggalkanmu"

credit thk : mama Nanet
Men :     Slmt Pagi Tuhan, sekiranya Tuhan punya waktu sedikit aku ingin bicara.
GOD :     Ooo..waktuKU adalah KEKEKALAN, tdk ada masalah ttg Waktu.

Apa pertanyaanmu?
Men :     Tks.. Apa yg paling mengherankan bagiMU tentang kami manusia?
GOD :    Hahaha.. kalian itu makhluk yg aneh.
*. Pertama, suka mencemaskan masa depan, sampai lupa hari ini.
*. Ke2, kalian hidup seolah olah tidak bakal mati.
*. Ke3, kalian cepat bosan sebagai anak-anak dan terburu-buru ingin dewasa. Namun stlh dewasa rindu lagi jadi anak2 : suka bertengkar, ngambek, dan ribut karena soal2 sepele.
*. Lalu Ke4, kalian rela kehilangan kesehatan demi mengejar uang, ttp membayarnya kembali utk mengembalikan kesehatan itu.
Hal2 begitulah yang membuat hidup kalian susah.
  
Men :     Lantas apa nasihat Tuhan agar kami bisa hidup BAHAGIA ? 
GOD :    sebenarnya semua nasihat sudah pernah diberikan. Inilah satu lagi keanehan kalian : Suka Melupakan nasihatKU.
Baiklah Ku ulangi lagi ya beberapa yg terpenting
1. Kalian harus sadar bahwa mengejar rejeki adalah sebuah kesalahan. Yang seharusnya kalian lakukan ialah menata diri agar kalian layak dikucuri rejeki.
Jadi ”Jangan mengejar rejeki, tetapi biarlah rejeki yang mengejar kalian.”
2. Ingat : "siapa" yang kalian miliki itu lebih berharga dari pada "apa" yang kalian punyai. ”Perbanyaklah teman, kurangi musuh.”
3. Jgn bodoh dgn cemburu dan membandingkan yg dimiliki org lain. Melainkan ”Bersyukurlah dengan apa yg sdh kalian terima.”Khususnya, kenalilah talenta dan potensi yg kalian miliki lalu kembangkanlah itu sebaik-baiknya, maka kalian akan menjadi manusia Unggul. Otomatis Rejeki yg akan mengejar kalian.
4. Ingat orang yg disebut Kaya bukanlah dia yg berhasil mengumpulkan yg paling banyak, tetapi adalah dia yg paling "sedikit" memerlukan, sehingga masih sanggup memberi kpd sesamanya.Ok ?
 
Yg terpenting buat kamu pribadi yg sdg membaca ini, bisa mengerti dan bertindaklah.
Ingat janji ini : "AKU Tidak Pernah Meninggalkanmu"

Menyekolahkan si anak "spesial"

Redaksi :
Menjelang tahun ajaran baru, maka semua sekolah bersiap untuk menerima murid baru, tak terkecuali AA25. Adakalanya di antara anak-anak baru tersebut, ada beberapa yang memiliki kondisi khusus, seperti autis, hiperaktif, gangguan konsentrasi, dll..baik yang sudah terdeteksi serta tertangani maupun yang belum ketahuan. AA25 beberapa kali juga menerima murid "spesial" ini. Konsekuensinya tentu para guru dituntut untuk lebih siap dalam menerima berbagai kemungkinan yang akan terjadi, karena tak jarang kondisi khusus anak bisa berakibat pada berbagai tingkahlaku spesial mereka, yg kadang dinilai mengganggu suasana belajar di kelas. Untuk itu, kali ini saya masukkan artikel khusus mengenai "menyekolahkan si anak spesial". Di dalamnya terdapat kriteria pokok apa saja yg harus dipenuhi oleh si anak agar bisa bersekolah di sekolah umum. AA25 sebagai sekolah umum tentunya juga harus mengetahui hal-hal semacam ini, agar bisa membina anak-anak "spesial" ini dengan baik pula, sehingga jauh dari anggapan "asal terima".

Menyekolahkan si anak ’spesial’
Di ajang curhat (mencurahkan isi hati)milis Putera Kembara, milis khusus untuk para orangtua yang anaknya autis, seorang ibu menulis, “Saya punya pengalaman tiga tahun menyekolahkan anak saya yang autis di sekolah umum, dari playgroup sampai TK. Dari segi perilaku banyak sekali kemajuan. Dia sudah care sama temannya, sudah banyak bertanya tentang apa yang dia dengar dari penjelasan gurunya, misalnya apa itu neraka, surga dan lain-lain, meski pun saat diterangkan dia sibuk dengan puzzle-nya.”
Ada lagi orangtua yang mengisahkan, anaknya juga masuk ke playgroup umum, melakukan speech therapy dan konsultasi ke psikolog, dan mengalami perkembangan luar biasa. Sekarang si anak sudah berusia enam tahun, lancar berkomunikasi meski kadang-kadang tak jelas dan harus diulang. Kemampuan akademis si anak juga luar biasa, walau soal maturity agak tertinggal.
Tapi, ada juga orangtua yang rupanya tidak terlalu ’beruntung’. Setelah si anak (4) dimasukkan ke TK umum selama beberapa bulan, mereka melihat hal itu ternyata tidak efektif. Si anak tidak mengalami kemajuan dalam kemampuan untuk berkomunikasi secara verbal, dan yang lebih parah lagi, tujuan agar bisa bersosialisasi seperti yang dicari banyak orangtua ketika menyekolahkan anaknya di sekolah umum ternyata tak tercapai. Maklum, sikap agresif yang kerap ditunjukkan anak autis, membuat anak-anak lain justru takut untuk mendekat.
Memang, anak-anak autis cenderung punya karakter hiperaktif, kurang fokus terhadap lawan bicara, dan membatasi interaksi mereka dengan lingkungan sekitar. Sebagian anak autis punya ingatan dan kemampuan bicara normal, tapi sebagian lagi tidak normal. Yang jelas mereka sulit berinteraksi dengan lingkungan, apalagi berteman. Tak heran kalau mereka seolah punya dunia sendiri, punya minat yang obsesif dan cenderung bersikap repetitif. Bahkan dalam kondisi yang agak parah, sekadar untuk bisa melakukan aktivitas dasar pun mereka butuh latihan intensif.
Meski tak tertutup kemungkinan bagi mereka untuk bersekolah di sekolah umum, dan sebagai orangtua Andalah yang paling berhak memutuskan, pertimbangan berikut mungkin bisa jadi masukan bagi Anda.
Kondisi anak
Bila setelah terdeteksi (autis) anak memperoleh penanganan baik dan mengalami kemajuan pesat, mungkin saja dia bisa disekolahkan di sekolah umum. Tapi, bila modal si anak dari awal sudah ’kurang’ atau kondisi autisnya memang lebih parah, tak bisa bicara misalnya, sebaiknya dia memang tak dimasukkan ke sekolah umum. Begitu pun bila anak autis ini sulit untuk berkonsentrasi di tempat ramai, mungkin sebaiknya orangtua tak memaksa si anak untuk masuk ke sekolah umum.
 “Bisa-bisa dia malah benci belajar, hingga kemudian dia berkembang dengan konsep diri yang negatif karena selalu gagal, selalu berada di urutan paling bawah dan tertinggal dari teman-temannya,” kata Dyah Puspita, psikolog  dan sekretaris Yayasan Autisme Indonesia (YAI) yang akrab dipanggil Ita ini. Anak boleh didukung untuk masuk ke sekolah umum kalau taraf autisnya terbilang ringan.
Menurut Vera Itabiliana, psikolog anak dan remaja, sebelum memutuskan apakah si anak perlu dimasukkan ke sekolah khusus atau tidak, orangtua perlu menguji anaknya dengan sejumlah pertanyaan, seperti: Bisakah si anak duduk diam di kelas selama jangka waktu yang lama, bisakah dia mengikuti aturan, bisakah dia memahami instruksi orang lain, atau bisakah dia mengendalikan emosinya ketika ada sesuatu yang tak berkenan terjadi? “Bila semua pertanyaan di atas jawabannya “tidak”, ya tidak ada positifnya memaksa anak masuk sekolah umum, lebih baik dia masuk sekolah khusus saja,” kata Vera.
Toh, hal itu terpulang lagi kepada orangtua. Sebagai psikolog yang juga terapis bagi anak-anak autis dan pengelola sekolah autis Mandiga, Ita tak pernah langsung menganjurkan agar seorang anak autis dimasukkan ke sekolah umum atau sekolah khusus. “Semuanya terserah orangtua si anak, saya hanya memberitahu kemungkinan-kemungkinan yang akan mereka hadapi sebagai konsekuensi pilihannya,” katanya.
Jadi, sah-sah saja, kok, kalau orangtua mau coba-coba dulu memasukkan anaknya ke sekolah umum. Siapa tahu si anak memang mampu. Tapi, bila si orangtua sejak awal memang menyadari si anak mungkin sulit menyesuaikan diri di sekolah biasa, sekolah khusus akan menjadi pelabuhan yang tepat. Ketika anak lain patuh saat disuruh latihan menulis misalnya, si autis mungkin akan ’membangkang’ dan asyik sendiri melakukan hal lain. Itulah yang mungkin akan menyulitkan mereka di sekolah umum.
Biasanya orangtua yang tak bisa memasukkan anaknya ke sekolah umum memang mengalami kebingungan. Tapi, menurut Ita, saat ini sudah cukup banyak pilihan. “Selain di SLB (Sekolah Luar Biasa), bisa juga dia dimasukkan ke sekolah reguler, di special wings dengan special needs, yang menerapkan kurikulum tersendiri, atau homeschooling saja. Orang belajar itu kan tidak harus selalu di sekolah umum. Kalau ada sekolah khusus, itu baik, tapi kalau nggak ada, kenapa nggak dibuat? Nggak punya tempat? Di garasi saja!” kata Ita.
Lalu bagaimana dengan guru-gurunya? Nggak ada, lho, guru yang siap pakai. Semua belajar lagi karena setiap anak berbeda karakternya. Tak ada satu anak autis pun yang sama persis dengan anak autis yang lain. Satu hal yang utama, guru itu harus punya niat untuk membaktikan diri terhadap tugasnya, karena urusan ilmu dan teknik bukanlah sesuatu yang tak bisa dipelajari.
Lingkungan kondusif
Di sekolah khusus, kebutuhan anak-anak ini memang lebih terpenuhi karena lingkungan fisik, pengajar maupun kurikulumnya sudah dirancang sedemikian rupa sehingga lebih cocok dengan kondisi anak. “Anak berada di lingkungan yang bisa memahami kondisi khusus mereka tanpa ada label ’anak aneh’ atau anak bandel. Maklum, anak yang hiperaktif sering dicap biang onar di sekolah-sekolah umum,” kata Vera. Akibatnya, kepercayaan diri anak lebih terjaga karena dia tidak merasa ’aneh’ sendiri atau tertinggal dari teman lain yang normal.
Itulah juga pertimbangan Aprilia, ibu dari Davina (4), ketika memilih menyekolahkan anaknya di sebuah sekolah khusus untuk anak-anak autis. “Saya lihat perkembangan anak juga akan lebih optimal karena terapi bisa dilakukan sambil sekolah. Guru-gurunya juga mempunyai keahlian sebagai terapis,” katanya. 
Sebaliknya di sekolah umum, guru seringkali minim atau tak punya pengalaman sama sekali menangani anak-anak ’spesial’ ini. Bukan itu saja, guru juga sulit memberikan perhatian khusus kepada si anak autis karena rasio jumlah anak dan guru dalam satu kelas kurang ideal. Di sekolah umum, satu kelas biasanya berisi lebih dari 20 anak. Bandingkan dengan di sekolah khusus anak autis, di mana satu guru rata-rata menangani tiga anak. “Lebih dari itu, pasti sudah keteteran,” kata Ita.
Selain itu, menurut Ita, “Jangankan untuk anak autis, untuk anak normal pun kurikulum pendidikan nasional saat ini sudah lumayan berat.” Pantaslah kalau anak autis yang bersekolah di sekolah umum biasanya jadi lebih tertatih-tatih. Karena itu, menurut Ita, metode belajar di sekolah autis Mandiga dibatasinya hanya pada hal-hal yang bersifat aplikatif. “Mereka diajari membaca, menulis, berhitung. Tapi yang lain-lain, kira-kira terpakai atau tidak? Kalau tidak, ya lebih baik tidak usah,” katanya.
Cara mengajar pun tidak bisa selalu sama untuk setiap anak. Untuk mengajarkan sebuah kosa kata, misalnya, guru anak autis tak jarang harus putar otak untuk bisa menarik perhatian mereka. Tak jarang mereka harus memulainya dari sesuatu yang menarik minat anak. Contoh bila si anak suka oli, maka akan lebih efektif kalau dia mulai belajar dari kata “oli”, sementara bila dia suka mobil, ya akan lebih efektif untuk mulai mengajari dia dari kata “mobil”.
Karena setiap penyandang autis berbeda dalam mengolah dan merespon informasi, kurikulum dalam proses belajar-mengajar memang harus disesuaikan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing anak. Pola pendidikan yang tepat itu juga harus diajarkan oleh guru-guru yang memang punya dedikasi untuk mendidik dan mau mencintai anak-anak ’spesial’ itu. Kalau tidak, terbayang kan rasanya menghadapi anak-anak yang bisa menangis terus selama berjam-jam tanpa henti, atau marah-marah dan malah kadang mengamuk tanpa alasan.
Saat ini, perhatian pemerintah terhadap pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus (special needs) memang masih sangat minim. Padahal, jumlah anak-anak dengan berbagai kekurangan ini terus bertambah. Saat ini saja, menurut Yayasan Autisme Indonesia, meski belum ada penelitian khusus, diperkirakan dari 160 kelahiran satu diantaranya adalah anak autis. Wah, kenapa bisa sebesar itu?  “Memang autis itu biasanya dipengaruhi oleh faktor genetis, tapi pemicunya bisa dari faktor eksternal seperti gaya hidup, vaksin, makanan, pengaruh zat-zat kimia, dan polusi yang makin parah," kata Ita. “Bayangkan kalau jumlah mereka terus bertambah dan tidak memperoleh pendidikan yang memadai. Betapa pun mereka itu kan juga generasi penerus,” tambahnya.
Rasa prihatin Ita itu mungkin ungkapan hati seorang ibu yang anaknya juga penyandang autis. Tapi, harapan akan perhatian yang lebih besar terhadap anak-anak berkebutuhan khusus seperti anak-anak autis ini mungkin juga harapan kita semua. Harapan ini bahkan juga pernah dilontarkan Torey Hayden, psikolog dan guru anak-anak berkebutuhan khusus asal Inggris ketika bertandang ke Indonesia sekitar dua tahun lalu. Menurut penulis buku laris Sheila: Luka Hati Seorang Gadis Kecil itu, anak-anak ini perlu bersekolah di tempat yang tepat karena sebagian dari mereka punya potensi intelektual yang tak kalah dibanding anak normal. Pendidikan yang baik dan sesuai dengan kebutuhan mereka akan membuat anak-anak ini bisa hidup wajar, mandiri, dan tidak sepenuhnya bergantung pada keluarga dan lingkungan.
***
Anak-anak dengan down syndrome
A gift of life, anak-anak ini adalah kado dari Tuhan. Mereka bukan untuk disembunyikan, bukan pula untuk dianggap sebagai kutukan yang memalukan. Mereka juga berhak untuk menikmati kehidupan seperti anak normal yang diajak jalan-jalan oleh orangtuanya ke mal, atau diajak bersosialisasi dengan anak lain. Itulah yang selalu ditekankan oleh Doni Rizal, direktur eksekutif dan para pengajar di Pusat Informasi dan Pendidikan Down Syndrome Matahari Lestari kepada para orangtua anak-anak down syndrome.
Berbeda dengan anak autis yang selintas terlihat seperti anak normal, anak-anak down syndrome memang langsung bisa dilihat perbedaannya dengan anak normal. Wajah mereka bundar seperti bulan purnama (moon face), dengan mata sipit yang ujung-ujungnya tertarik ke atas. Sampai saat ini, belum diketahui apa penyebab kerusakan kromosom No.21 yang menjadi pemicu kelainan genetis penyebab down syndrome ini. Tapi diperkirakan ada beberapa faktor yang berperan, seperti usia ibu yang sudah cukup lanjut, terpapar ultrasound USG lebih dari 400 kali, pengaruh alkohol, obat-obatan Cina, dan lain-lain. 
Anak-anak down syndrome punya tiga karakter khas, yaitu: secara intelektual rendah, secara mental terbelakang dan secara fisik mereka juga lemah. “Dengan kondisi seperti itu, tidak mungkin bagi kita untuk mengajari mereka biologi atau fisika. Yang penting mereka bisa bina diri (mandiri), bisa menulis dan membaca, dan memiliki beberapa keahlian lain seperti menggambar atau melukis.” kata Doni.
Di sekolah khusus down syndrome Matahariku yang dikelola oleh Yayasan Matahari Lestari, anak-anak down syndrome ini belajar untuk mandiri. Selain mengajarkan kemandirian dasar, sekolah ini juga mempunyai program jangka menengah school to work, yaitu program yang mempersiapkan anak-anak ini agar di masa pubertas mereka bisa mandiri dan melakukan pekerjaan dasar. “Di Belgia, misalnya, ada pabrik roti, toko pembuat kartu dan sebagainya yang menggunakan para penderita down syndrome sebagai pekerja. Program ini juga sangat berhasil di Singapura dan bisa menyalurkan anak-anak tersebut untuk bekerja di hotel, entah itu di bagian laundry,  atau sebagai bell boy. Bahkan ada juga yang bisa menjadi pengarang meski dengan intelektualitas dan mentalitas yang terbelakang.
Selain sangat fokus pada pekerjaan yang mereka tekuni, anak-anak down syndrome ini juga punya keistimewaan sangat pintar meniru. Akibatnya, mereka harus diekspos pada lingkungan yang baik. Jika bersekolah sama-sama dengan anak autis atau anak-anak yang hiperaktif misalnya, mereka juga akan cenderung meniru sikap hiperaktif itu. Tapi, pada dasarnya anak down syndrome cukup ramah dan terbuka sehingga mereka juga bisa bersosialisasi, meski untuk itu tentunya mereka butuh dukungan penuh dari orang-orang di sekitarnya.*

Minggu, Februari 14, 2010

NYONTEK - bukan kenakalan tapi "bibit kejahatan"..waspadai sejak dini

oleh : Ahmad Baedowi
credit thk : KickAndy

Halak & Poisson dalam Corrupt Schools, Corrupt Universities: What can be done? (2007) membedakan lima bentuk korupsi dalam pendidikan, yaitu penggelapan (embezzlement), (suap (bribery), penipuan, pemerasan, dan pilih kasih (favoritism). Dalam kasus penipuan, Halak & Poisson secara tegas merujuk pada kasus-kasus banyaknya orang yang menggunakan ijazah palsu serta guru dan pengawas yang kesukaannya adalah membantu anak-didik mereka menjawab soal-soal dalam sebuah tes atau ujian. Semua bentuk penyalahgunaan ini pasti banyak sekali contohnya dalam praktek pendidikan kita.
Sekarang mari bertanya pada diri kita sendiri, “pernahkah kita melakukan praktek mencontek ketika bersekolah dulu?” Hampir dapat dipastikan bahwa jawaban kita semua hampir 90% menyatakan pernah menyontek. Tetapi jika pertanyaannya adalah, “apakah ketika kita menyontek di sekolah dulu lebih banyak disebabkan oleh faktor lingkungan (budaya sekolah) atau murni dorongan dari keinginan secara pribadi,” maka jawabannya menurut Edu tetap sama, yaitu 90% responden pasti akan menjawab karena faktor lingkungan (budaya sekolah). Dari perspektif keabadian psikologis kemanusiaan, faktor lingkungan (budaya sekolah) merupakan alasan pembenaran nomor satu untuk mendukung budaya mencontek kita di sekolah. Bahkan hingga saat ini, praktek mencontek malah tumbuh subur di kalangan pendidik dan lembaga pendidikan, terutama dan salah satunya dipicu oleh kebijakan tentang Ujian Nasional (UN).
Ambil contoh pengalaman Edu dalam membina Sekolah Sukma Bangsa (SSB) di Aceh. Setiap tahun ajaran baru, manajemen SSB selalu disibukkan untuk melakukan adjusment terhadap rata-rata nilai ijazah dan hasil UN siswa yang masuk ke SSB. Betapa tidak, rata-rata nilai siswa yang masuk ke SSB untuk setiap mata pelajaran yang di UN-kan adalah 7-9. Tetapi ketika dilakukan test ulang terhadap semua peserta ujian masuk ke SSB dengan menggunakan pola soal seperti di UN bahkan dengan tingkat kesulitan yang telah diturunkan hingga 25%, hasilnya sungguh menakjubkan! Rata-rata siswa hanya memiliki nilai 2-4, artinya mereka sesungguhnya tak layak lulus UN. Tetapi mengapa masih tetap lulus? Jawabannya ada pada kepolosan anak-anak yang mengaku bahwa hampir seluruh jawaban yang di UN-kan dibantu oleh para guru mereka, di mana praktek mencontek marak ditolelir agar mereka bisa lulus.
Mengapa anak-anak yang masuk ke SSB mau secara sukarela mengakui praktek kecurangan tersebut? Jawabannya sederhana, yaitu karena di SSB mereka harus patuh pada budaya sekolah SSB di mana apabila setiap siswa dan guru melakukan pelanggaran terhadap tiga hal, yaitu mencontek, melakukan kekerasan (psikis dan fisik), dan merokok, maka setelah melalui proses pemberitahuan, nasehat, dan pemanggilan orangtua, seorang guru dan siswa dapat dikeluarkan dari sekolah secara tidak hormat. Dalam 3 tahun ada 9 orang siswa dan 2 orang guru yang dikeluarkan gara-gara melanggar aturan tersebut. Tujuan pendidikan di SSB dikemas amatlah sederhana, di mana salah satu pedoman yang dipegang manajemen adalah petuah dari Albert Einstein, yaitu bahwa hasil akhir dari sebuah proses pendidikan adalah membuat seseorang dapat menghargai dirinya sendiri (Try not to become a man of success but a man of value). Dengan pemahaman seperti ini manajemen SSB patut berbangga, karena pada prakteknya saat ini kesadaran untuk tidak mencontek sangat tinggi di kalangan siswa. Bahkan beberapa siswa yag secara akademis tak memiliki keunggulan sekalipun berani untuk mengikuti ujian dengan hanya berbekal pensil dan pulpen ketika masuk ke ruang kelas saat ujian berlangsung. Artinya kepercayaan diri mereka untuk tidak mencontek sudah berubah menjadi semcam habit dan semoga akan berbuah kejujuran.
Praktek penipuan dengan modus memberti contekan saat berlangsungnya UN juga Edu rasa terjadi hampir di seluruh wilayah Republik ini. Ada sebuah cerita tragis dan ironis dari seorang teman Edu yang kini sedang mengambil program magister pendidikan di salah satu universitas di Jakarta. Teman Edu bercerita tentang pengakuan seorang Kepala Madrasah di Jakarta yang juga mengkuti program magister tersebut, di mana sang kepala sekolah dalam 3 tahun terakhir ini meluluskan 100% anak didiknya yang mengikuti UN dengan cara memberikan contekan dengan berbagai cara. Dalam pemahaman Kepala Madrasah ini, adalah “zholim” jika kita tak membantu anak-anak untuk lulus UN. Sebuah statement yang menjungkirbalikkan makna “zholim” dalam pemahaman keagamaan kita. Astaghfirullah al-‘adzim.

Imajinasi = Ijtihad

oleh : Ahmad Baedowi
credit thk : KickAndy
Pernah suatu ketika Edu mendengar Guru Sarmili mengutip sebuah hadits yang isinya tentang kepantasan sahabat Umar Bin Khattab untuk menjadi Rasul sesudah Nabi Muhammad. Hadits Nabi tersebut lebih kurang berbunyi ”Jika ada orang yang pantas sesudahku untuk menjadi Nabi dan Rasul, maka orang tersebut pastilah Umar Bin Khattab RA.” Hadits ini dalam pandangan Edu penuh dengan daya imajinasi Rasul Muhammad, yang bukan hanya tak dapat dibaca secara sederhana, tetapi juga mengandung begitu banyak pertanyaan mendasar tentang masa depan umat manusia. Jika hal ini terjadi, pastilah keputusan Rasul Muhammad tersebut merupakan ijtihad terbesar dalam sejarah hidup beliau.
Jauh hari sesudah itu barulah Edu mengerti, mengapa Rasul Muhammad menaksir Sahabat Umar untuk menjadi pengggantinya. Dalam sejarah, Khalifah Umar terkenal memiliki sikap dan sifat tegas, pemberani, cerdas, kreatif, baik hati dan jujur. Semua sifat baik Umar tersebut terekam dengan baik di mata hati Rasul Muhammad, sehingga dalam prediksi beliau pastilah sifat-sifat Umar tersebut sangat dibutuhkan untuk tujuan-tujuan kemanusiaan ke depan.
Dari sudut pandang pedagogis, sifat-sifat Khalifah Umar amat dibutuhkan guru dan anak didiknya dalam upaya mengembangkan budaya avonturir; menjelajah alam pikiran dan pengetahuan dengan penuh keberanian, mau mengambil resiko tapi disertai dengan kejujuran, dan kemampuan mengelola imajinasi secara kreatif. Jika budaya ini tumbuh subur di lingkungan sekolah kita, pastilah anak Indonesia akan tumbuh menjadi serangkaian karakter Umar yang bukan hanya berani, tegas, dan jujur, tetapi juga kreatif sekaligus imajinatif.
’Imajinasi lebih menentukan ketimbang ilmu pengetahuan,’ demikian petuah Albert Einstein. Membuat anak didik kita berani dalam berimajinasi adalah tugas kita semua, para guru dan orangtua. Sebab Edu yakin benar bahwa keberanian melakukan imajinasi sama dengan berijtihad, yaitu kemampuan berlaku, berpikir dan berusaha secara sungguh-sungguh. Dalam bahasa agama, sekalipun terdapat kesalahan dalam berijtihad, maka seseorang akan memperoleh satu pahala. Sedangkan jika ijtihadnya benar, maka kepadanya akan dinisbatkan dua pahala sekaligus. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah budaya menumbuh-kembangkan imajinasi ini telah menjadi perhatian serius dari para praktisi dan pengambil kebijakan otoritas pendidikan kita?
Edu sedikit pesimis menjawab pertanyaan tadi. Rasa-rasanya budaya belajar di sekolah kita masih jauh dari keberanian mengambil resiko ini, selama para guru dan orangtua masih setia pada pola asuh dan pola ajar yang menggunakan pendekatan stimulus-respon (behaviorisme). Bahkan masyarakat kita pun menjadi takut menerima imajinasi seseorang. Sebutlah misalnya kasus Blue Energy dan Banyu Geni, dua usaha imaginatif yang dilakukan oleh perorangan dan kampus, tetapi tak mendapat respon publik secara positif. Imaginasi mereka seakan bukan sebuah ijtihad, sehingga penemunya harus dicacimaki dan diintimidasi, Rektor UMY terpaksa harus mundur, karena penemuan dan kebijakan mereka dianggap melawan common-sense. Sungguh ironis, sebuah organisasi sebesar Muhammadiyah sebagai pengusung utama tajdid (pembaharuan) dalam bidang sosial dan pendidikan di tanah air sekalipun, takut melakukan kesalahan.
Viktor Frankl pernah bilang, bahwa ada empat anugerah Ilahi yang terdapat dalam diri manusia, yaitu (1) kesadaran diri (self-awareness); (2) suara hati (consciense,); (3) kehendak bebas (Independent will,); dan (4) daya imajinasi (imagination,). Semua itu berkaitan dengan kerja akal dan hati sekaligus, tempat di mana kreativitas harus dihargai secara selayaknya. Jika kita tak mampu menghargai sebuah imajinasi, maka jangan berharap dunia pendidikan kita akan menghasilkan ilmuwan berkaliber. Bahkan yang mungkin tumbuh adalah anak didik dengan rasa keputus-asaan, frustasi, dan jauh dari kreatif.
Edu tak tahu harus menafsir apa, ketika di ruang kelas ada seorang siswa mengajukan pertanyaan imajinatif dengan kata ’seandainya’ ,. ”Seandainya Khalifah Umar Ibnu Khtattab benar menjadi Nabi setelah Nabi Muhammad dan masih hidup di zaman sekarang, pasti dia akan memilih John Lennon sebagai Nabi sesudahnya.” ”Apa alasanmu?” Kata Edu. ”Iya dong, dengarlah lagu Imagine, sangat menyentuh sekaligus menggugah dalam kondisi dunia yang semakin tak jelas ini.” Waduh, apakah ini sebuah logika imajinatif atau tanda keputus-asaan seorang siswa? Wallahu a’lam bi al-sawab. 

DISIPLIN - jangan diberitahukan tapi dicontohkan

oleh : Ahmad Baedowi
credit thk : Kick Andy

Rizal Panggabean memberikan notasi sangat bagus tentang disiplin dalam praktek pendidikan kita. Kesimpulan sederhana dari tulisannya tentang “Disiplin Menjadi Musuh Utama Pendidikan” dalam Media Indonesia 15 Desember lalu amat menggelikan, yaitu bahwa siswa kita hanya didesain dalam sebuah lingkungan belajar yang akan menjadikannya sedikit lebih baik dari robot. “Pengertian disiplin yang berada di balik berbagai bentuk insiden kekerasan adalah praktik melatih siswa supaya mematuhi perintah dan peraturan, dan menghukum mereka bila tidak mematuhinya. Selaras dengan ini, dispilin adalah kepatuhan siswa terhadap peraturan dan perintah guru atau senior mereka. Selain itu, kepatuhan tersebut terbina karena adanya aneka hukuman yang menyertai ketidakpatuhan. Hukuman itu tidak semuanya berupa pemukulan atau hukuman fisik lainnya.”
Edu hanya ingin melanjutkan lagi pertanyaan artikel tersebut, apa yang salah dari pengertian disiplin di atas? Mengapa siswa, guru, orang tua dan masyarakat luas perlu mempertanyakan pendekatan disiplin di lingkungan sekolah? Ada beberapa cerita dari lapangan yang bisa kita ambil dan petik pelajaran soal disiplin ini.
Di sekolah berasrama seperti Sukma Bangsa, praktek disiplin dikenalkan melalui proses antrian saat mereka akan makan. Satu bulan pertama, anak-anak tak bisa sama sekali untuk belajar menoleransi, bahkan terhadap sesama temannya. Pembatas antrian yang terbuat dari besi stainless sempat dua kali roboh diterjang aksi berebutan yang memang mengasyikkan itu. Dua jalur antrian yang membatasi laki-laki dan perempuan terasa kurang efektif meski petugas kantin dan para guru asuh asrama mencoba membuat mereka lebih tertib dan disiplin dalam mengantri makanan.
Ketika keputus-asaan menerpa para pengasuh asrama dan petugas kantin, solusi efektif dari salah seorang guru muncul. Mereka membuat jalur ketiga, khusus untuk antrian para guru. Setiap hari para guru ikut antri mengambil makanan tanpa rasa malu dan lelah dalam memberi contoh dan perintah. Karena pembiasaan dan row model pembelajaran langsung didapat dari para guru mereka, akhirnya pada bulan keempat dan kelima suasana tertib dan disiplin dalam mengambil makanan pun terwujud. Bahkan para siswa sekarang bisa tersenyum dan rela memberi kesempatan kepada teman-temannya yang sakit dan merasa lapar tak tertahan untuk mengambil makan lebih dulu.
Cerita lainnya lagi-lagi datang dari kantin sekolah. Seorang guru diam-diam selalu mengamati tentang perilaku anak dalam mengambil nasi. Rata-rata anak mengambil nasi tanpa berhitung apakah akan bisa mereka habiskan atau tidak. Alhasil, setiap saat selalu banyak anak yang menyisakan makanannya. Dalam satu minggu hampir seluruh guru terlibat untuk memberi nasihat agar tak mengambil nasi terlalu banyak jika tak mampu menghabiskannya. Bahasa agama pun dicoba didoktrinkan, seperti mubazir temannya setan, tak berterima kasih dan sebagainya. Hasilnya tetap saja sama, praktek berdisiplin dalam mengambil nasi tak terjadi.
Akhirnya Edu mengusulkan agar setiap habis makan sisa nasi dikumpulkan dan ditimbang. Hasilnya sungguh memilukan, dalam seminggu sisa nasi mencapai kurang lebih 40-50 kilogram! Sisa nasi dalam seminggu ini kemudian difoto dan dipasang dalam majalah dinding sekolah, sambil diberi beragam nasihat dan foto-foto orang kelaparan seperti di Afrika agar anak-anak bisa mensyukuri dan menghargai makanan yang telah mereka terima. Cara seperti ini ternyata lebih efektif dalam memberi penyadaran konsep mubazir dan rasa berterima kasih. Minggu-minggu selanjutnya sisa nasi terus berkurang, bahkan hingga sekarang hanya 1-2 kilogram saja per-minggu.
Edu teringat ilustrasi hirarkis dari Schumacher, bahwa manusia pada dasarnya memiliki unsur penyadaran diri yang sangat spesifik dan mampu melakukan refleksi transendensi, bahkan dalam praktek berdisiplin sekalipun asal saja dirangsang oleh sebuah row model yang juga genuine dan generik. Dalam bahasa pedagogis ala James Baldwin, “children have never been very good at listening to their elders, but they have never failed to imitate them.” Telah lama pendidikan kita hanya mengajarkan disiplin dalam bungkusan indoktrinasi dan guru-guru kita tak memiliki kemampuan membungkus konsep disiplin dalam suri tauladan yang secara nyata dapat dipraktekkan oleh para siswanya. Wallahu a’lam bi al-sawab.

Sabtu, Februari 13, 2010

Moms and Dads,
mungkin di antara moms  n dads ada yang merupakan warga keturunan Chinese, di mana hari ini tgl.14 Februari merupakan hari Tahun Baru China, dan demi untuk menghormati budaya para leluhur merayakan bersama keluarga, maka kami mengucapkan pula :

Gong Xi Fa Cai! 

Happy Chinese New Year! Keong Hee Huat Chai! Kung Hei Fatt Choy!
Selamat Tahun Baru Cina! Chúc MừngNăm Mới! 恭喜發財! Bok Manhi Badeuseyo (새해 복 많이 받으세요)!

Semoga Allah SWT memberikan kesejahteraan dan harapan baru bagi moms and dads.

Jangan lupa, hadiri 

GEBYAR AL AZHAR 22-25  

20-21 FEBRUARI 2010

Jumat, Februari 12, 2010

SAMBUT GEBYAR AL AZHAR 22-25 !

Dalam rangka Gebyar Al Azhar 22-25 akan diselenggarakan berbagai acara antara lain :
Talk Show "Marissa Haque"
Bazaar
Pentas Seni
Lomba Mapel TK-SD
Ayo moms dads hadiri dan ramaikan berbagai acara tadi
20-21 Februari jam 08.00 - selesai

Kamis, Februari 11, 2010

Rapat Triwulan ke-3 Tahun ajaran 2009-2010


Assalamualaikum Wr.Wb,

Dear mom and dads
Pada tanggal 9 Pebruari 2010 jam 13.00 kemarin, Jamiyyah SD mengadakan rapat triwulan ke-1 semester 2 Th.2009-2010 bersama dengan kepala sekolah Bp. Budiyarno & para wakil kepala sekolah ( Bp. Ruswanto dan Bp.Dian ). Sementara pihak Jamiyyah yg hadir adalah M.Totik (ketua), M. Arka ( wakil kt.), M.Fadhil ( sekr 1), M.Nanet (sekr.2), M.Fendy ( Bendahara ), M.Adit, M.Gibran (sie sosial).
Rapat kali ini membahas segala permasalahan yang dikemukakan oleh para orangtua murid kepada pihak pengurus Jamiyyah. Rapat berjalan lancar dan semua keluhan orangtua yang rata-rata menyangkut permasalahan belajar mengajar akan segera ditindaklanjuti oleh pihak sekolah.
Berikut beberapa hal yang kami bahas dalam rapat :

1.       Perlakuan Pembina Pramuka Puteri
Diketahui dari para orangtua murid bahwa ternyata selama ini, untuk para siswa putri khususnya kelas 3 & 4, ada pemberian hukuman yang kurang pantas.
2.       Kebersihan WC dan perlengkapan sabun di dalam WC.
3.       Jajanan anak.
4.       Adab ajar mengajar oleh guru SDIA, terutama guru baru sbb:
  • Adab percakapan / tata bicara guru kepada anak yang kurang pantas, seperti pemberian “label” kepada anak dan cara menegur anak yang kurang pantas
  • Guru menyuruh anak menyalin dari papan tulis, dan langsung di hapus, sedangkan murid belum selesai mencatat.
  • Cara pembelajaran bidang studi Math dan Sains; dimana penyampaian materi kepada anak sulit untuk di pahami.
  • Pembahasan materi soal ulangan / PR; dimana jawaban benar-salahnya harus diberitahukan sehingga anak mengerti letak kesalahannya.

5.       Permasalahn kenaikan SPP yang terjadi setiap tahun ajaran.
6.       Guru BP; dalam menyelesaikan masalah anak harus sesuai dengan koridor psikolog perkembangan anak.
7.       Sehubungan dengan hal di atas, perlu dikaji ulang akan perlu tidaknya memakai jasa konsultan psikolog dalam menyelesaikan permasalahan yang timbul.